Tabéa ,  welkom  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Search This Blog

Loading...

Penjelasan singkat tentang membaca dalam Bahasa Toudano

Ejaan Bahasa Tondano disusun menurut Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Di bawah ini ada beberapa penjelasan mengenai huruf bahasa Tondano yang tidak sama dengan Bahasa Indonesia.

Huruf 'e' diucapkan seperti 'e' pada “enam” dan “elang”
Contoh:

tewel – tajam

Huruf 'é' taleng diucapkan seperti 'e' pada kata “meja” dan “besok”
Contoh:

téwél – terbang

Huruf 'g' diucapkan 'g' pada kata “garis” dan “gagah”
Contoh :

legu’ – bunyi

regak – muncul

Bunyi guttural 'gh'
Contoh :

ghenang – pikiran, ingatan

ghio – wajah

Dalam bahasa Tondano, beberapa kata diawali dengan huruf 'r' bila didahului bunyi sengau 'n' pengucapannya akan berbunyi sengau 'd'. Penulisannya mengikuti kata dasar. Contoh:

Secara berurutan

ditulis: en raa' (darah); en rano (air); en rui (tulang)

dibaca: e ndaa', e ndano, e ndui


Pada awalan pembentuk kata perintah 'i' ditambah dengan kata dasar yang berawalan huruf vokal (a, u, i, e, o) akan terjadi bunyi luncuran 'y'.

iayat (angkat, hunus) dibaca 'iyayat'
iayo (sampaikan, ceritakan) dibaca 'iyayo'

Pada pertemuan huruf 'n' dan 'k' tercipta bunyi 'ng' 
ditulis: 'alinkumokan' (nanti saya bawa) dibaca 'alingkumokan'

Pada pertemuan 'ng' dan 'l' terdapat bunyi sisipan 'e'
misalnya ditulis: tumodongla ni'itu (setelah itu) dibaca tumodongela ni'itu.

Untuk kata yang diawali dengan huruf 'w' dan didahului dengan partikel 'em', pengucapannya akan berbunyi 'b'. Penulisannya juga mengikuti kata dasar.

Secara berurutan

ditulis: em walé (rumah), em wéné (padi, benih), em wuter (berat)

dibaca: e mbale; e mbene; e mbuter

Bunyi sengau terjadi antara partikel dan kata yang mengikutinya. Dalam tulisan, bunyi sengau ini digabung langsung pada partikel, bukan pada kata yang mengikutinya.

Contoh:

e lo'ong – tengkuk

em pinedam – dirasakan

en tetéboan – jendela

eng ghenang – ingat

Glotal atau hamzah (') ditulis untuk membedakan kata yang penulisannya sama namun sebutannya berbeda, demikian juga dengan artinya.

Contoh:

wawa – basi

wawa' – bawah

wa'wa' – coba



wou – bau

wo'u – kura-kura

wou' – dibasahi


Bunyi glotal tetap ditulis diantara dua vokal yang sama.
Contoh:

paa – loteng

kiit – habis

soo – mana


pa'a – paha

ki'it – ikut

so'o – tidak mau


Dalam bahasa Tondano, terdapat tiga dialek. Perbedaan ini dapat juga didengar dalam pengucapan beberapa kata, serta juga beberapa kata yang berlainan:

Berurutan Tondano Kakas, Remboken, Indonesia

lodéi – lodéi – londéi: perahu

rebur – rebu – rembur: gemuk

léé’ – léé’ – léhé’: leher

0 comments:

Post a Comment