Tabéa ,  welkom  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Search This Blog

Loading...

PENELITIAN TENTANG MAENGKET BAHASA TONDANO

BAB I
LATAR BELAKANG

PENULISAN SASTRA BAHASA TONDANO
Perlu diakui bahwa sastra etnis Tondano sangat kurang. Dari tahun 50-an Maengket sudah berkembang di seluruh Minahasa. Hampir setiap desa yang berbahasa Tondano ada tumpukan Maengket. Tapi sastra Maengket yang digunakan kebanyakan bukan sastra etnis Tondano. Karena itu anggota/peserta Maengket tidak tahu arti dari apa yang diucapkan.

Berbicara latar belakang penulisan sastra Tondano, ada beberapa hal yang perlu diketahui. Karena penulisan kata - kata yang sama tapi pengucapan yang berbeda :

1. Vokal e pada kata 'meja' dalam bahasa Indonesia ditulis sama dengan penulisan kata 'rendah'. Untuk penulisan dalam Bahasa Tondano ditulis seperti ini: 'e'. Contoh kata "baru dalam bahasa Indonesia, untuk bahasa Tondano bukan "Weru" tapi "Weru.

2. Kata - kata bahasa Tondano yang dimulai dengan huruf "w" apabila menggunakan bunyi sengau 'em' maka pengucapannya cenderung berubah "b" tapi dalam penulisan tetap memakai kata dasar bahasa seperti "Wale" artinya rumah ditulis 'Emwale ', dibaca 'Embale '.

3. Kata dasar yang diawali oleh vokal dan menggunakan bunyi sengau “en” maka pengucapannya sengau digabung dengan kata dasar. Contoh: ditulis 'en upus' : sayang, dibaca 'enupus. '

4. Ada gabungan huruf g dan h (gh) seperti kata dalam bahasa Tondano contoh: "Ghenang"'. ingat. Cat: Untuk kata ini tidak dibaca 'Ghenang' karena bukan termasuk dialek 'asli' Tondano.

5. Penulisan kata yang mendapat awalan dan akhiran konsonan, maka konsonan tidak ditulis pada kata awal, tapi nanti ditulis pada pengulangan yang kedua, contoh : "Tobol” Topang, dalam pengulangan "Matobo-tobolan”, artinya saling menopang, bukan “matobol-tobolan”, contoh lain, " Ulit " artinya "Benar" atau "Sungguh - sungguh" dalam bahasa Tondano " Mauli – ulit ”.

6. Tanda apostrof (') ditulis untuk menandakan bunyi glotal. Bunyi glotal dipakai baik dibagian tengah atau akhir kata yang berfungsi membedakan kata yang sama penulisan tapi berbeda arti. Contoh : Wa’wa: coba dan wawa' : bawah, contoh lain : Pa 'a artinya Paha dan Paa artinya Loteng. Penggunaan tanda apostrof atau bunyi glotal seperti: le'os bukan leos.

7. Dua Vokal tanpa bunyi glotal pengucapannya diperpanjang, contoh: Kaan: (1) Padi, (2) Nasi, Wiir : Beras.

Banyak contoh tentang latar belakang penulisan sastra bahasa Tondano bagi peminat bahasa, tapi karena terbatasnya waktu kami, hanya dapat memberikan contoh-contoh seperti diatas.


BAB II
SEJARAH PENULISAN MAENGKET

Istilah Maengket terdiri dari awalan Ma dengan kata dasar Engket. Ma berarti sedang melaksanakan dan Engket artinya mengangkat tumit naik turun sesuai lagu. Karena itu Maengket adalah gabungan seni sastra dan seni tari. Sastra atau lagu yang disusun atau dibuat untuk Maengket disebut Neengketen

Tari Maengket menurut Dra. J. Rompas-Awuy dalam buku 'Profil Kebudayaan Minahasa' adalah tari tradisional kerakyatan dan tari tradisional klasik, yang berdasar adat dan kebiasaan orang Minahasa pada jaman dahulu.

Maengket dilaksanakan dalam upacara-upacara antara lain: Makamberu, Metabak, Masambo, Melaya', Meraba. Tapi yang dikenal saat ini tinggal 3 (tiga) yaitu: Makamberu, Meraba', dan Lelaya'an.

I. Maengket Makamberu.
Dizaman dahulu banyak orang sebagai petani yang mengerjakan sawah atau ladang. Untuk menunggu padi yang ditanam di sawah atau di ladang memerlukan waktu yang panjang. Karena itu disaat padi akan dipetik atau sudah dipetik ada rasa kegembiraan dan kesukacitaan dari petani yang diungkapkan dalam bentuk menyanyi sambil menari. Kegembiraan dan kesukacitaan karena panen padi baru diungkapkan dalam nyanyian syukur kepada Tuhan. Itulah yang disebut Maengket Makamberu.

Kita ketahui bahwa bahasa - bahasa etnis di Minahasa antara lain Tondano, Tombulu, Tonsea dan Tontemboan mempunyai hubungan yang erat. Karena itu sering kali syair Maengket yang mengisahkan panen padi baru untuk etnis bahasa Tondano diucapkan Makamberu yang seharusnya diucapkan Makamberu. Karena Makamberu adalah cara pengucapan etnis Tombulu. Kata “baru” seperti diuraikan pada bagian sebelumnya untuk etnis Tondano adalah Weru bukan Weru, padi bukan Wene' tapi Kaan.

II. Maengket Rumamba'
Rumah orang Minahasa di zaman dahulu terbuat dari kayu. Sebagai ungkapan kegembiraan disaat rumah sudah selesai dibangun dan akan mulai dipergunakan ditandai dengan memasang lampu, yang dalam bahasa Tondano disebut soloan atau sumolo. Karena itu diadakan pesta sekaligus untuk menguji apakah rumah yang dibuat itu kuat. Untuk menguji apakah rumah itu kuat maka orang yang hadir sambil menyanyi menghentak - hentakkan kaki di lantai yang dalam bahasa Tondano disebut Meraba'. Kalau bahasa Tombulu Maramba.

III. Maengket Lelaya'an
Tidak berlebihan kalau orang Minahasa dikatakan mudah bergaul dengan siapa saja. Baik orang tua maupun orang muda. Termasuk muda-mudi, mereka bebas memilih siapa yang menjadi jodohnya. Orang Minahasa tidak mengenal jodoh diatur atau ditentukan oleh orang tua. Kesempatan seorang pemuda atau pemudi dapat berkenalan atau mengungkapkan perasaan atau pengalaman kepada orang lain yang dibawakan dalam bentuk nyanyian pada saat - saat tertentu. Kalau ada orang lain yang mendengar ada orang menyanyi maka mereka berkumpul dan menyanyi bersama - sama dengan suasana gembira atau melaya'. Karena itu lelaya'an dikenal juga sebagai tarian muda-mudi.

Dalam kegiatan Maengket apakah Makamberu, Meraba' atau Lelaya'an selalu diawali oleh seorang penyanyi kemudian diikuti atau diulangi oleh orang lain. Selain itu untuk membawakan seluruh jenis Maengket selalu berpasangan laki-laki dan perempuan.

Dari uraian diatas maka pada dasarnya Maengket dengan membawakan Maengket Makamberu, Maengket Meraba, Maengket Lelayaan tidak ada hubungan satu dengan yang lain. Karena itu perlu diingatkan kepada setiap orang Minahasa yang mau menggiatkan atau melestarikan Maengket, janganlah tarian Makamberu dikatakan babak I, Meraba' babak II dan Lelaya'an dikatakan babak III, sebab hal itu telah disepakati dalam Sarasehan Maengket tahun 1968 yang dilaksanakan bidang Kesenian Departemen Pendidikan Sulawesi Utara.


BAB III
KENDALA YANG DIHADAPI DAN USAHA PENANGGULANGAN

I. Kendala.
Perlu diakui bahwa hubungan bahasa- bahasa etnis di Minahasa sangat erat dan hanya dikenal dalam pengucapan. Karena itu sering terjadi kesulitan untuk menentukan apakah kata yang diucapkan itu betul bahwa Tondano atau tidak.

Masih sangat kurang kita menjumpai buku yang ditulis dalam bahasa etnis. Sedangkan banyak nasehat atau ungkapan - ungkapan atau cerita - cerita yang terdapat di Minahasa tetapi semua itu hanya disampaikan secara lisan. Karena itu sering terjadi bahwa bahasa etnis Tombulu dianggap juga bahasa Tondano, Tontemboan atau Tonsea. Memang diakui banyak kata yang sama antara etnis Tondano dengan bahasa etnis lain di Minahasa. Tetapi ada beberapa kata-kata boleh sama penulisan dan pengucapannya namun memiliki arti yang berbeda, dan ada kata yang tabu di etnis Tondano tetapi di etnis lain merupakan bahasa sehari-hari. Untuk etnis Tondano berbeda pengucapan dengan etnis Tombulu, sebagai contoh: Tondano ditulis dan dibaca 'Nikei' artinya kami, sedangkan Tombulu ditulis 'Nikei' dan dibaca 'Nikai' artinya kami.

Tetapi kendala yang paling utama dalam pengembangan bahasa Tondano adalah:

1. Sekitar tahun 60-an, orang tua yang tahu bahasa Tondano tidak lagi menggunakan/mengajarkan bahasa Tondano kepada anak - anak mereka sebab dianggap 'kampungan' kalau melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

2. Banyak keluarga - keluarga di Tondano tidak berasal dari etnis Tondano dengan demikian bahasa yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari ditengah-tengah keluarga dan masyarakat adalah bahasa 'Melayu Manado'.

3. Orang Tondano yang berusia 30 - 40 tahun khususnya yang berada di kecamatan Tondano Barat, sebagian kecamatan Tondano Timur dan Tondano Utara meskipun mengetahui dan tahu mengucapkan bahasa Tondano hanya mempergunakan bahasa Melayu Manado. Kecuali untuk desa-desa/kelurahan seperti: di kecamatan Tondano Selatan, kecamatan Eris, kecamatan Kombi, kecamatan Lembean Timur.

4. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sudah pernah mengeluarkan/ menerbitkan bahasa daerah untuk diajarkan disekolah tetapi tidak berlanjut karena tidak ada pelatihan bagi guru - guru.

5. Tahun 1975 dalam daftar laporan hasil pendidikan/rapor baik di sekolah dasar maupun sekolah lanjutan ada bahasa daerah tetapi tidak dilaksanakan karena materi yang disediakan tidak dilanjutkan dengan melatih guru dalam bahasa daerah mengakibatkan dalam rapor tidak diisi hasil laporan pendidikan.

6. Sekarang ini sudah ada tulisan-tulisan dalam bahasa etnis Tondano, seperti: Pedoman Membaca dan Menulis, buku Panduan Guru, buku Muatan Lokal untuk para siswa yang diterbitkan oleh Pusat Penerjemahan Bahasa UKIT Tomohon tahun 2004. Tetapi untuk penerbitan dan pendistribusian masih terhambat karena terbentur pada masalah dana.


B. USAHA PENANGGULANGAN
Pada tahun 1989 telah diterbitkan Kamus bahasa Tondano - Indonesia, yang disusun oleh J. Wantalangi. Tulisan dalam bahasa Tondano juga sudah mulai diusahakan meskipun baru terbatas pada uraian tentang awalan sisipan dan akhiran yang ditulis dalam buku Profil kebudayaan tahun 1997 yang disusun oleh Prof. Dr. J. Turang dengan judul Bahasa Daerah di Minahasa dengan penulis Prof. Drs. A. B. G. Rattu. Juga pada tahun 2004 telah diterbitkan kamus bahasa daerah Manado - Minahasa oleh Jerry Waroka. Saat ini ada usaha konkrit yang dilaksanakan oleh Pusat Penerjemahan Bahasa UKIT Tomohon, yakni :

1. Dengan melalui penelitian telah menyusun pedoman membaca dan menulis bahasa Tondano, dengan harapan siapa saja dapat mengetahui dan mempelajari cara menulis dan mengucapkan bahasa Tondano. Terutama untuk para guru sebagai buku pedoman.

2. Menyiapkan buku panduan Guru untuk mengajarkan Bahasa Tondano supaya, para Guru benar - benar ada panduan secara bertahap untuk mengajarkan bahasa Tondano.

3. Menyiapkan buku/materi untuk murid dalam bahasa Tondano, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris supaya siswa bukan saja mendengar dari guru tapi mereka dilatih membaca dan menulis dan dapat mempelajarinya di rumah.

4. Sudah menerjemahkan beberapa bagian Alkitab, seperti cerita Yusuf, dan kitab Yunus dari Perjanjian Lama (sudah diterbitkan) dan Injil Markus dari Perjanjian Baru (akan dicetak Oktober 2006).


BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Sastra bahasa Tondano perlu dilestarikan antara lain melalui teks Maengket bahasa Tondano dan perlu diajarkan materi bahasa daerah di sekolah –sekolah

2. Bahasa Tondano harus diformulasikan secara baku dan terstruktur dari bahasa lisan menjadi bahasa tulisan. Baik dalam bentuk cerita, sejarah, bahkan lagu dalam bahasa Tondano.

B. SASARAN
Untuk melestarikan bahasa Tondano diharapkan :

1. Pemerintah daerah Minahasa melalui Dinas Pendidikan untuk mengadakan Pelatihan Guru untuk bahasa Tondano

2. Setiap pelaksanaan kegiatan lomba dalam rangka peringatan seremonial tertentu supaya selalu ada paket lomba dalam bahasa Tondano.

3. Orang tua yang tahu bahasa daerah, diharapkan tetap menggunakan bahasa daerah dalam berkomunikasi dengan anak - anaknya, juga dalam pergaulan sehari - hari.

4. Bagi orang Minahasa yang merasa dan menikmati karunia Tuhan dalam bentuk materi dapat membantu melestarikan bahasa Tondano

www. maengket.com
path: http://www.maengket.com/sejarah.asp?id=6&jd=Sastra Maengket Bahasa Tondano&kat=1
23:22 | 0 comments

Mari Belajar Bahasa Tondano

Bahasa merupakan alat komunikasi yang berhubungan erat dengan budaya bangsa. Pada era globalisasi dan modernisasi dewasa ini, secara cepat maupun lambat perubahan zaman telah banyak mengikis nilai-nilai budaya yang selama ini telah mengakar di masyarakat. Karena bahasa terkait erat dengan budaya maka otomatis hal ini berdampak pada bahasa daerah.

Di Indonesia ada 109 bahasa daerah belum termasuk Papua dabn sebagian besar terancam kepunahan.
Menurut data UNESCO, setiap tahun ada sepuluh bahasa di dunia ini yang punah. Pada abad ke-21 ini, diperkirakan laju kepunahan bahasa akan lebih cepat lagi. Di antara 6.000 lebih bahasa yang ada di dunia pada abad ke-20, hanya tinggal 600-3.000 bahasa saja yang masih dapat bertahan menjelang abad ke-21 ini. Dari 6.000 bahasa di dunia itu, sekitar separuh adalah bahasa yang dengan jumlah penutur tidak sampai 10.000 orang, dan seperempatnya lagi kurang dari 1.000 penutur.

Padahal, salah satu syarat lestarinya sebuah bahasa adalah jika penuturnya mencapai 100.000 orang,
Salah satu bahasa daerah yang terancam punah adalah bahasa kampong saya, bahasa Tondano.
Menyadari hal ini, pada tanggal 19 November 2008 saya memberanikan diri membuat Group Lestariakn Bahasa Tondano di Facebook yang saat itu mulai mewabah di Indonesia.

Kenapa saya pilih Facebook? Karena, menurut pengamatan saya, salah satu keengganan anak-anak Tondano menggunakan bahasa daerahmya karena ada kesan menggunakan bahasa Tondano identik dengan kampungan.

Jadi, dengan adanya bahasa Tondano di Facebook mudah-mudahan generasi muda yang akrab dengan internet akan tertarik dan merasa bangga menggunakan bahasa Tondano. Melihat hanya dalam tempo kurang dari setahun, anggota group Lestarikan Bahasa Tondano telah mencapai sekitar 3100 orang maka rasanya misi saya cukup berhasil.

Bayangkan, kalau seorang punya teman 50 saja padahal dalam kenyataan umunya lebih bahkan ada beberapa yang telah mencapai limit 5000 teman berarti sudah ada minimal 150.000 orang yang mengetahu tentang Bahasa Tondano.

Padahal sejujurnya pembuatan Group Lestarikan Bahasa Tondano ini sebenarnya modal nekat, karena penguasaan Bahasa Tondano saya juga terbatas. Beruntung saya berkenalan dengan “pekakaan” Boёng Dotulong seorang pemerhati Bahasa Tondano serta menguasai hampir semua bahasa daerah Minahasa yang begitu gigih berusaha agar Bahasa Tondano tidak hilang dari peredaran.

Berkat bantuan Boёng Dotulong kita bisa mengetahui bahasa “makatana” istilah popular yang digunakan untuk bahasa daerah secara baik dan benar.

Ada cukup banyak kendala dalam mempelajari Bahasa Tondano karena tidak”buku ajar” tentang patokan yang seragam mengenai tata bahasa serta cara penulisan dan lain-lain.

Sebenarnya Pusat Penerjemahan Bahasa Universitas Kristen Tomohon (UKIT) telah memulai usaha menyusun aturan tentang ejaan bahasa Tondano yang disusun mirip dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD).

Sayang sekali usaha yang mulia ini kandas ditengah jalan. Menurut informasi terakhir, divisi Bahasa Tondano telah di non aktifkan.

Selanjutnya agar ada patokan mengenai cara mempelajari Bahasa Tondano, saya mencoba mengumpulkan tulisan dari Boёng Dotulong di Group Lestarikan Bahasa Tondano di Facebook.

AKSARA

Aksara yg dipakai utk menuliskan bahasa Toudano, ialah aksara Latin dan abjadnya yg sesuai, yaiti: a,aa,b,(c),d,e,è,èè,(f),gh,g,i,ii,(j),k,l,m,n,ng,(ny),o, oo,ou,p,r,s,t,u,uu,w,y dan hamzah dengan catatan:

1. (c),(f),(j) dan (ny) konsonan tidak asli dlm bahasa Toudano.

kata2 asing dengan abjad c dlm bahasa Toudano diganti dgn s; j diganti dng y

umpama: calana menjadi salana, cerutu = suruut, meja = meya.

Abjad ny sebenarnya adalah penggantian dari ni bilamana disusul abjad vokal

umpamanya: nyaku dari niaku = saya; nye'i dari nia'i = ini.

2. Huruf g tidak dpt dibunyikan seperti dlm bahasa Indonesia (bunyi tekak), melainkan dibunyikan separuh menghidung. Karena bunyi demikian tdk ada dlm abjad Latin, maka dipakai huruf gh (uvular/bunyi anak tekak). Bunyi g (bunyi tekak) itu akan menggantikan bunyi gh apabila kata diawali oleh kata sandang eng (kata perserta yg ditulis terpisah).

umpama: ghe'gher menjadi eng ge'ger = dingin, ghenang menjadi eng genang = ingatan, ghorem menjadi eng gorem = di dalam.

3. Jika dlm kalimat kata yg didahului kata berawal w berakhir dengan m atau n dan ng atau sesudah kata sandang e, maka w berobah menjadi b. Dengan kata lain: Kata yg dlm ucapan mulai dengan bunyi b, aslinya w.

umpama: balè aslinya walè = rumah, bangko' aslinya wangko' = besar, buta aslinya wuta = penuh.

Bila kata asing berawal b dimasukkan dlm logat (idioom) Toudano, maka b

berobah menjadi w.

umpama: wanaang aslinya benang, wotel aslinya botol.

Kata Sandang dlm b Toudano yg banyak sekali dipergunakan adalah si: "si kaloku = sahabat saya", "si kompo' = belalang".

sè dipakai sebagai K Sandang si dlm bentuk jamak: "sè tou = orang", sè rongit = nyamuk".

ni dipakai pd kata pengganti nama bentuk jamak: "ni koo = engkau", "ni kou = kamu", "ni sia = dia", "ni sèa = mereka", "ni ei = ini".

e dari em,en,eng menjadi m,n,g (bukan u,um,un,ung).

e digunakan bagi konsonan l,m,n,r contoh e labo' = panjang; em bagi konsonan b, p contoh em pitu; en bagi konsonan d,s,t contoh en tian = perut; dan vokal a,e,i,o,u contoh en a'è; ng digunakan bagi konsonan g,k (uvular/bunyi anak tekak gh bila kata tsb didahului dengan konsonan g dengan menggunakan K Sandang eng maka uvular tidak akan ada) contoh: eng gio = wajah, eng ge'ger = dingin.

K Benda yg huruf awalnya huruf hidup K Sandang en itu seolah-olah dibunyikan e saja, sebab bunyi n akan dihubungkan lafalnya dengan hurup hidup itu sehingga seolah D Kata mulai dengan huruf n.

contoh: en upi' dilafalkan e nupi = kemarahan; en eta dilafalkan e neta = sekam; en èwè' dilafalkan e nèwè' = air liur.

Contoh kalimat :

dafo = alung "kalu laka-lakaas dafo tu aèr batègè, nyanda mo basa tu lantè = sa itu rio-rior alungen matiïs, en dei' makekos em bela".

dapa riki = tinu'mer "anak laki2 yg dorang ada dusu, dapa riki di dodoku = si tolèoki' pekeki'iten nèa, si tinu'mer waki lelèbètan".

datang-bulang = paregakan "dè pè bini ada pigi jo biar ada datang-bulang = si kaämpitena si limaakan ma'an sia paregakan".

dèfoma = em balun, walun "dia bapigi jao so itu kong dia babawa dèfoma = si matoro waki wa'kat(reu') niïtu sia simaput em balun".

dèng ratus = maatu-atus "dèng ratus tu orang2 ditanalapang bauni yg ada baku binti = maatu-atus sè tou waki kalasan maato sè mawintian".

dèri jadi = nèi karengan en tou "dè pè tailalar so dèri jadi = e nilana minakari nèi karengan en tou".

dia bilang = pokèi ni "dè pè mama bilang, èso dia mo pi pa tukang bauba = pokèi ni ina ena, wo'odo si maè aki si mengèlot".

dia do' pè kira = paghenangena tu'uman "kita nyanda dapa pigi, dia do' pè kira kita nèmao = ku rei'kan toro limaa, paghenangena tu'uman ku so'o".

diang2 kaluar = kotiou "dè pè mama ada labrak lantarang diang2 kaluar = si pawèwèn ni ina ena ka sia kotiou".

dodoku = lelèbètan "kalu gui biar lèi dodoku bèsi anyor = sa so'so'an ma'an lelèbètan uasèi maayuritè".

dodu' = seghu', mengou "bolè tajadi samantara bamakang ngana kana' badodu = torokan mamuali kasuatan mekaan koo seghu'an".

dola = so'ri'sip "dola pa dia di prampatang = so'ri'sip sia waki pontol".

dubo-dubo = sesoghèl "ambè dubo-dubo kalu ngana mo bacungkèl = mèdo en sesoghèl sa koo menoghèl".

dunya = kaoatan, penapulan "samantara torang ada lèi di dunya barajing-rajing kasana di samua hal = kasuatan kèi wiapè' eng kaoatan lumingka-lingkat wia em baya-waya".

dusu cari = todèian "dusu kong cari ngana pè mama, ampèr siang lèi dia so turung ruma = todèian si ina'mu, si memo'do pè' wo rumoyor".


REDUPLIKASI (PENGULANGAN SUKU) & IMBUHAN-IMBUHAN.

Reduplikasi

Reduplikasi hanya terjadi pd suku pertama, yg umumnya suku2 pertama hanya terdiri dari suku2 yg terbuka (serupa dgn b Tount.); suku2 inilah yg diulangkan.

ump: aäsaren = cirita paninggalang (hadis) KD "asar" = menuturkan;

uümanen = dongengan, KD "uman" = cirita nonsèng (dongeng).

Reduplikasi dgn cara membentuk suku hidup bervokal "e" dgn huruf awal berkosonan sama dgn konsonan kata dasar suku pertama, maka suku yg terbentuk itu ditempatkan mendahului Kata Dasar.

misalnya: lelobo' = jala, KD lobo'; "Si lengèi meniwo lelobo' = dia bontok babèking jala".

Disinipun dpt kita melihat jikalau suku yg diulangkan terdiri dari sebuah konsonan dan dituruti oleh sebuah vokal maka vokal dari suku yg diulangkan itu berobah menjadi "e" (terjadi juga dlm b Tounsèa). Sedangkan dlm dialek Kakas dan Remboken vokal ini tidak berobah.

Kata Dasar yg diberi awalan, antara lain: ika- atau maki- umumnyapun di anggap sebagai kata-kata yg diulangkan.

ump: ika-ikaupus = mengasihi sekali; KD upus = kasih.

maki-makiupus = makin mengasihi.


Imbuhan-Imbuhan:

1. Awalan, 2. Sisipan, 3. Akhiran

Awalan

Awalan "ma" mengandung arti: melaksanakan, melakukan, mempergunakan atau mengerjakan sesuatu yg dinyatakan oleh kata dasar (KD).

misalnya: maäto = melihat; "Si Tulung si maäto si kusè = Tulung sedang melihat kuskus".

makèlang = berjalan; "Si urangena si metete'umou makèlang = anaknya sedang belajar berjalan".

Jikalau KD menaruh vokal "a" pd suku pertama dan diimbuhi oleh awalan yg berakhir dgn vokal "a" maka vokal ini berobah menjadi "e " dlm hal ini "ma" menjadi "me"

contoh: mepa'yang = sedang bekerja; "Si amaku si mepa'yang waki uma = ayah saya sedang bekerja di ladang/kebun".

Perobahan demikian juga pd awalan2 lain yg pd suku akhir menaruh vokal "a"

seperti: "mapa" menjadi (>) "mepe"; "ka" > "ke"; "kapa"> "kepe", dst.

Dgn perobahan ini maka terdapat 2 awalan "me" yaitu awalan "me dari ma" dan "me" dari golongan "me" yg tidak disengaukan pd kata2 dasar yg mulai dgn konsonan2 "r,l,g"

Awalan "me" < "ma" diimbuhkan pd kata dasar;

ump: menèro = mencari; "Sè matilalem menèro nisia = mereka menyelam mencari dia".

Awalan "me" dari golongan "me" yg tidak disengaukan . Jika KD mulai dgn sebuah vokal maka awalan tsb di tambah dgn "ng"; jika mulai dgn abjad "k" maka diganti oleh "ng"; "t dan s" diganti oleh "n"; "p dan w" diganti oleh "m"; selainnya "r,l,gh dan g" cukup dgn "me" saja.

ump: KD "èdo = ambil" (mengèdo kokong = mengambil/memotong kepala).

"kèlang = berjalan" (Si merepet itè mengèlang sia = ia cepat2 saja berjalan).

"sèro = cahari" (Sè matilalem menèro nisia = mereka menyelam mencari dia".

"wui = menanya" (Laa memui em balè = pergi menanyakan rumah).

KD yg mulai dgn konsonan2 "r,l,g" tidak disengaukan, jadi berawal "me" saja, tapi lebih lazim dipergunakan bentuk "um" dari reduplikator.

ump: "lumelèwo' = biasa berbuat jahat"; "lumelangkoi = biasa liwat"


Awalan "pa" menunjuk makna sesuatu menjadi "alat" melakukan pekerjaan, yg sering pula berobah menjadi "pe" dgn maksud yg sama.

ump: "paketor = buat memotong"; "Pepatil toro i paketor eng kaai sela = parang boleh saja dipakai memotong kayu yg besar".

"pekaan = alat makan"; "Lawas en toro i pekaan ta'an na'è en dei' = tangan boleh dipakai utk makan tetapi kaki tidak".

Awalan "ka" yg sering pula berobah menjadi "ke" terutama karena pengaruh vokal pd KD.

contoh: "katewel = terlalu tajam"; "eng Katewel paaghi'mu = pisaumu terlalu tajam". "Kelaker = terlalu banyak"; "Sè kelaker sè tu'a minerur = terlalu banyak org tua2 yg datang berkumpul".

"ka" dgn makna "teman sekerja, setempat tinggal, dsb":

kaäwu = teman hidup (istri/suami);

kewalè = teman serumah;

kesaru = berhadapan.

"ka" dgn arti "terlalu":

kaoki = terlalu kecil;

katoyo' = terlalu sedikit;

kelaker = terlalu banyak.

"ka" dgn arti "dapat, sanggup, mampu":

kalewet = dapat menyeberang;

kewaèr = sanggup membayar;

kepatik = mampu menulis.


Beberapa kemungkinan kombinasi (awalan):

"maki" awalan ini mengandung arti "meminta/memohon org lain utk melakukan yg dinyatakan KD"

misalnya: "makisèrèt" meminta agar dpt ikut naik (KD sèrèt); "makito'rong" meminta menyambungkan.

Bentuk pasif awalan "maki" ialah "paki" dlm arti "diminta/dimohon lakukan sesuatu yg dinyatakan KD"

misalnya: "i pakiliwagh" diminta tanyakan; "i pakikoo' " diminta minumkan.


"mapa" dgn makna "menyuruh di ...(buat)"

misalnya: "mapasiwo" menyuruh buatkan; "mepekaan"(perhatikan tulisan yg lalu tentang perobahan ..

bila KD menaruh vokal "a" pd suku pertama dan diimbuhi oleh "awalan" yg berakhir dgn vokal "a" maka vokal itu berobah menjadi "e")= menyuruh makan.

"papa" dgn makna "suruh buatkan/kerjakan"

misalnya: "papasiwo" suruh membuatkan.


"maka" dgn makna "mempunyai"

"makatelu" tiga kali "Si makatelu kumè'ang" ia tigakali melangkah.

"meke- " dgn makna "mempunyai, memiliki"

misalnya: "mekelabung" memiliki baju "Si mekelabung eng kiselokan = ia memiliki baju yg sudah sempit sekali".


"ka-..-en" adalah perpaduan dari arti "terlalu (sedang menjadi)"

misalnya: "kaupusen = sayang skali/kasih banget; KD upus = kasih/sayang

"ka-..-an" umumnya mengandung arti "tempat (di mana kedapatan sesuatu)"

misalnya: "kalèwo'an" = tempat di mana ada sesuatu yg buruk/jahat/jelek;

"kalè'osan" = tempat di mana ada sesuatu yg baik/bagus (umpama tanah subur).


"kapa- " dgn makna "cara ..."

misalnya: "kapawui" = cara menanya "Kumura kapawui papaäyangen = bagimana cara menanya pekerjaan"; "kapasusui" = cara berbicara "Kasa pedis kapasusui papaäyangen" = amat sulit cara berbicara pekerjaan.


"mina- " dgn makna "pernah"

bentuk aktif "mina- " (mine-); bentuk pasif "pina- " (pine-)

contoh: "minaäto" = pernah melihat; "pinaäto"= pernah dilihati

"minepa'yang" = pernah bekerja; "pinepa'yang" = pernah dikerjakan.


Sisipan-sisipan

Ada tiga jenis sisipan, yaitu: "in, im dan um".

Sisipan dipakai utk menunjukkan "waktu berlakunya pekerjaan; timbulnya suatu keadaan".

Sisipan "in dan im" menunjukkan waktu yg "telah lampau";

Sisipan "um" menunjukkan waktu yg "akan datang" yaitu: waktu berlakunya atau berakhirnya pekerjaan.

"in" bermakna "sudah di...";

"im" bermakna "sudah me.../ men.../meng..."

"um" bermakna "akan me.../men.../meng..."


Cara penyisipan

Sisipan ditempatkan antara dua huruf permulaan suku kata yg pertama dari kata yg dipergunakan KD atau kata turunan (kecuali kalau KD atau KT itu suku awalnya mulai dgn hurup hidup (vokal) *.

contoh: "in" pd kata "sela" = besar; "sinela = dibesarkan; "En sinela sete'un em balè nèa"= diperbesar tahun lalu rumah mereka.

"im" pd kata "sela" = besar; "simela" = menjadi besar; "Em pali'na kasamou simela"= lukanya sudah terlampau membesar.

"um" pd KD "sela" = besar; "sumela" = akan menjadi besar; "Kasamou sumela em pali'mu sa itu rei' èloten" = akan membesar lukamu itu bila tidak di obati.

Bila suku awalnya mulai dgn huruf hidup * maka sisipan "in" berumah menjadi "ni" dan sisipan "im" menjadi "min".

contoh: "in" pd KD "untep" = selam; "niuntep" = diselam; "Si tou minalemes si niuntep wo ka'atoan" = org mati lemas itu nanti diselam baru ditemui.

contoh: "im" pd KD "antung = ikat; "minantung" = sudah ikatkan; "Sèi si minantung si kawalo witu rerèèn" = siapa yg mengikatkan kuda itu pd pagar.

Dgn sisipan "um" lain perubahannya, bila suku awalnya mulai dgn huruf hidup maka yg ditempatkan hanya sisipan "im" (yg berubah menjadi "mi")

didepan huruf hidup dari suku pertama

contoh: "um" pd KD "iboi" = gantung; "miiboi" = akan digantungkan; "Si lengèi miiboi ka si poto' " = ia bodoh menggantungkan karena pendek".


Sisipan pd kata turunan (KT)

Sisipan "in" pd KT berawalan "ma", misalnya Kata Asal "tingkas" = lari; "matingkas" sedang lari; "minatingkas" = pernah lari; "Sè minatingkas mana en talun sè tou meidè' nurep wangko' " = orang2 pernah lari masuk hutan karena mereka takut banjir besar.

Sisipan "im" dan "um" tak dpt disisipkan pd kata turunn (KT) yg berawalan lain dari "ma" atau "me", hanya dpt dlm kata ulang reduplikasi.

contoh: "limelutu' " = pernah memasai-masak; sisipan "im" dlm reduplikasi "lutu' " menjadi "lelutu' "; "Nisia nu soborè' tetou si limelutu' " = sewaktu ia masih muda ia pernah memasak-masak.

sisipan "um" dlm "lelutu": "lumelutu' " = tukang memasak; "Sa mesesiwo pelesir, sumèro lumelutu' " = kalau mengadakan pesta, cari tukang masak.


Akhiran

Banyak bentuk akhiran dlm b Toundano serta perubahan2nya dan sering berkombinasi; akan tetapi "urutan tempat dlm kombinasi adalah tetap".

Dikelompokkan atas lima kelompok; akhiran "n" sering berubah menjadi:

"an, en, èn, in dan un".

contoh: KD "weru" + n > "werun" = jadikan baru; "Werun itèla rio-rior naran ka kèi kesakèian ngasusa" = baharui lekas2 tangganya karena ada tamu datang lusa.

contoh: KD "sera' " + an > "sera'an = ikan dimakan; "Sera' wu'ul rei' toro sera'an" = ikan yg busuk tak boleh dimakan.

contoh: KD "rintek" + en > "rinteken" = haluskan; "Rinteken e lungu mata' wo itu i ra'ar" = kecilkan (pendek2kan) kayu api yg basah itu lalu dijemurkan.

contoh: KD "sèndè'/sèdè' " + èn > "sèndè'èn" = jadikan bubur; "Sèndè'èn ta'an tèa' ta royak" = bikin bubur tapi jangan terlalu banyak air.

contoh: KD "pi'pi' " + in > "pi'pi'in" = basahkan.

contoh: KD "lutu' " + un > "lutu'un = masakin.


Akhiran "ku, mu, mieu, ta, u, na/ena dan nèa".

contoh: KD "beren" + ku > "berenku" = mata saya.

contoh: KD "siwo, siniwo" + mu > "siniwomu" = engkau yg buat.

contoh: KD "siwo, siniwo" + mieu > "siniwomieu" = kalian yg buat.

contoh: KD "lepo" + ta > "lepota" = sawah kami.

contoh: KD "lawas" + u > "lawasu" = tanganmu.

contoh: KD "labung" + na/ena > "labungna/labungena" = bajunya.

contoh: KD "sèlok" + nèa > "sèloknèa" = salah mereka.


Akhiran "è' " atau "pè' "

Yg pertama "è' " digunakan pd kata dgn akhiran "konsonan";

sedangkan akhiran "pè' " digunakan pd kata dgn akhiran "vokal".

Maknanya dpt dijelaskan dgn kata "dulu atau lagi".

contoh: "labungè' " = baju duluan; KD "labung" = baju. "Labungè' eng kemesanela" = baju dulu yg dicuci.

"siwopè' " = buat dulu; KD "siwo" = buat. "I siwopè' sera' rior" = masak ikan dulu.


Yg kedua "mou" utk kata yg berakhir dgn "vokal" atau "ou" utk kata yg berakhir dgn "konsonan", yg maknanya dpt dijelaskan dgn kata "sudah atau berikut"

contoh: "meraamou" = sudah berdarah; KD "raa" = darah. "Meraamou em pali'mu" = lukamu sudah berdarah.

contoh: "ou"; "mekaanou" = sedang makan; KD "kaan" = makan.

"Si mekaanou si sakèi" = sedang makan tamu itu.

Apabila akhiran "ou" atau "mou" ini dipakai bersama-sama dgn sisipan "in" atau "im" yg menunjuk waktu yg sudah lampau maka maksudnya hanyalah untuk menguatkan maksud sisipan itu.

contoh: "kinèlangou" = sudah di jalani; KD "kèlang" = jalan.

contoh: "limaamou" = sudah pergi; KD "laa" = pergi.

Akhiran "kan"

contoh: "melaakan" = ada pergi juga; KD "laa" = pergi. "Si melaakan si kaloku, peila'ku sia raara'an" = ia ada pergi juga kawanku, saya kira ia sakit.

"limaakan" = sudah pergi juga. "Si limaakan ma'an sia minengesala" = ia sudah pergi juga walaupun sendirian.

"lumaakan" = akan pergi juga. "Si lumaakan ma'an sia laker pa'yangen = ia akan pergi juga meskipun banyak perkerjaannya.


Perubahan "kan" yg terjadi yaitu "okan" adalah akhiran utk KD yg berakhirkan

konsonan dan "mokan" untuk vokal; sedang maknanya dapat ditunjuk oleh,

contoh: "kimèlangokan" = sudah berjalan kaki saja; KD "kèlang" = jalan.

"Si kimèlangokan ka en dei'mola si sèrètan" = ia sudah berjalan kaki saja sebab tak ada lagi utk dinaiki/kendaraan.

"kumiwèèmokan" = nanti akan minta saja; KD "wèè" = beri. "Kumiwèèmokan kaan tumou wia ni sia" = nanti akan minta saja padi-bibit padanya. (dalam hal ini "wèè" dimaksud "minta").


Akhiran "kè"

Akhiran "kè" dapat mempunyai makna "katanya, kata mereka, pesannya".

contoh: "meimokè" = mari datang saja, katanya.

"tèa mokè paäna'an sia" = tdk usah menunggu dia, kata mereka.

"kumayo-kayongkè wia si Empung sa makèla-kèlang" = bergantunglah pada Tuhan bila melakukan berjalanan, pesannya.-

Terakhir ini ada "tiga jenis" yg se-mata2 menunjuk tiga tempat pd saat seorang yg memberi perintah atau menyuruh/mengajak, yaitu:

"dimana, ke mana, dari mana".

Sesuatu yg dikehendaki, yaitu:

"dibawa, dipindahkan, dikirim".


Tiga jenis yg dimaksud, adalah:

1. "la" atau "ela" (menunjuk tempat "dekat atau disekitar pembicara, si pelaku pekerjaan, si penerima").

2. "mi" atau "i" (menunjuk tempat sesuatu pengiriman terlaksana "dari tmpt yg jauh" ke arah yg berdekatan atau disekitar tmpt si pembicara).

3. "nè" atau "naè" (menunjuk tmpt sesuatu pengiriman terlaksana ke tmpt yg jauh dan ke arah yg jauh dari si pembicara).

Akhiran2 pertama pd tiap2 jenis "la, mi, nè" adalah utk diimbuhkan pd KD yg berackhir dgn "vokal".

contoh: "siwola" = buatkan; KD "siwo" = buat.

"I siwola pepareien sia" = buatkan layangan untuknya.

"wolèmi" = kayuhkan; KD "wolè" = kayuh.

"I wolèmi e lodèina waki lour" = kayuhkan kemari perahunya yg ada

di danau.

"lughanè" = rebuskan; KD "lugha" = rebus.

"I lughanè taadèi sè oki' = rebuskan jangung untuk anak2.


Akhiran2 kedua "ela, i, naè" utk KD yg berakhir dng "konsonan".

contoh: "purutela" = pungutkan; KD "purut" = punggut.

"Purutela eng kaan i peraar" = pungutkan padi yg dijemur itu.

"alini" = bawakan; KD "ali" = bawa.

"Alini wiei em baya tinelesmi" = bawakan kesini semua yg dibeli.

"kèrètnaè" = panggilkan; KD "kèrèt" = panggil.

"Kèrètnaè si oki' ka si maè masesekola" = panggilkan anak itu karena

ia akan pergi kesekolah.


Kombinasi akhiran

Dengan adanya akhiran2 yg tersebut di atas, ada kemungkinan terjadi kombinasi antara akhiran2 itu sendiri.

contoh: "labungankupè'kèla" = saya pakaikan baju dulu (katanya- ).

KD "labung" = baju; dgn imbuhan kombinasi akhiran:

"an + ku + pè' + kè + la"

"labung+an" = kenakan baju;

"labungan+ku" = saya kenakan baju;

"labunganku+pè' " = saya kenakan baju dulu;

"labungankupè'+kè" = saya kenakan baju dulu, katanya;

"labungankupè'kè+la" = "labungankupè'kèla".


KATA-KATA BILANGAN.

KATA-KATA BILANGAN POKOK:

satu "esa; dua "rua"; tiga "telu"; ampa "epat"; lima "lima";

anam "enem"; tujuh "pitu"; dlapang "ualu"; sambilang "siuw".

sapulu = mapulu'; saratus = maatus; saribu = mariwu.


Dari sebelas s.d. sembilanbelas, "kata sepuluh" dituruti "kata satuan" dgn di antaranya kata -dan- "wo".

contoh: sebelas "mapulu' wo esa"; duabelas "mapulu' wo rua";

tigabelas "mapulu' wo telu; ...sembilanbelas "mapulu' wo siuw".


PULUHAN; bilangan pokok di hubungkan dgn kata "nga-".

contoh: duapuluh "rua-nga-pulu' "; tigapuluh "telu-nga-pulu' "; ...sembilanpuluh "siuw-nga-pulu' ".

Demikian pula dgn ratusan dan ribuan.

contoh: duaratus "rua-nga-atus"; tigaratus "telu-nga-atus"; ... .

contoh: duaribu "rua-nga-riwu"; tigaribu "telu-nga-riwu".


Kata "wo" selalu dihubungkan dgn kata2 bilangan pd ribuan, ratusan, puluhan, satuan.

contoh: 3521 "telu-nga-riwu wo lima-nga-atus wo rua-nga-pulu' wo esa".

2489 "rua ngariwu wo epat ngaatus wo ualu ngapulu' wo siuw".


AWALAN "nga-" dibubuhi pd kata2 PEMBANTU bilangan;

umpama: se-bidang "sanga-werot" (satu bidang "esa nga-werot");

tiga kali lipat (tiga ganda) "telu ngalepet"; se-carik "sanga-kisi' ";

dua potong "rua ngaketor".


KATA BILANGAN PANGKAT;

Pada kata bilangan pokok (kecuali pd kata -pertama-) kata2 ini dibubuhi awalan "ka-".

contoh: pertama "ketarè"; kedua "karua"; ketiga "katelu"; ... .

kesepuluh "kapulu' "; keduapuluh "karua-nga-pulu' ";

keseratus "kaatus"; keseribu "kariwu".


Kata bilangan pangkat ini dpt diimbuhi dgn sisipan "um".

contoh: mendahului "kumetarè"; kedua kali "kumarua";

ketiga kali "kumatelu"; keempat kali "kumaapat"; kelima kali "kumalima".


PECAHAN

Pd awal kata bilangan ditempatkan "pa-".

contoh:

seperdua (1/2) "sanga-paruwa"; sepertiga (1/3) "sanga-patelu";

tiga persembilan (3/9) "telu nga-pasiuw";

sembilan perseratus (9/100) "siuw nga-paatus".

Mengenai fungsi imbuhan penyambung "nga-" lihat tulisan tgl 28 Febr 2009.


MEMPERBANYAK

Dilakukan dgn mengimbuhkan awalan "maka" pd kata bilangan pokok.

ump.:

satu kali "mekasa < maka-esa"; dua kali "maka-rua";

sepuluh kali "maka-pulu' ";

seratus kali "makaatus"; seribu kali "makariwu".


Ganda diucapkan "lepet" (= melipat), yg pula diawali "nga".

ump.:

tiga ganda "(maka-) telu nga-lepet" atau "(maka-) telu melepet" atau "(maka-) telu lumepet";

sepuluh ganda "(maka-) pulu' nga-lepet" atau "(maka-) pulu' melepet" atau "(maka-) pulu' lumepet".


Kata Bilangan Mengumpulkan terjadi dari pengulangan kata bilangan pokok diawalkan dgn "ma-"

ump.:

bersatu-satu (hanya seorang) "maesa-esa";

bertiga-tiga (bertiga orang) "matelu-telu".


Kata Bilangan tak tentu, a.l.:

samua "waya"; seluruh "pekasa"; banya "laker/idet/ka'asa";

sadiki "oki'/toyo' ";

beberapa "pirala/wo'o pira"; tiap-tiap "susur"; samua org "seker";

masing-masing "si esa wo si esa".-


KATA GANTI PENUNJUK

Terdiri dari 2 jenis, yaitu yg bersifat: kata sifat dan kata benda (substantif)

Ini "ia'i, ye'i, ne'i" (kata2 ini adalah penunjuk sesuatu atau orang yg berada di dekat si pembicara, yg bersifat kata sifat)

contoh:

rumah ini "em balè ye'i".


"Nye'i, ni'a, nia'i, en ti'i, nene'i" (untuk benda)

contoh:

yg ini rumah saya "nye'i em balèku"; yg ini rumahnya "en ti'i em balèna".

"nene'i" terjadi dari "en + ne'i" di mana kata sandang "en" menjadi "ne".

Ini "si ye'i, si ti'i, si ne'i" (untuk mahluk)

contoh:

orang ini baik(peramah) "si tou ye'i si kalè'os"; org itu "si tou ne'i".

Itu "niana, ni'tu/niïtu"

contoh:

rumah itu "em balè niana"; yg itu rumah baru "ni'tu em balè weru".


Yang sana "ne'imèè, iti'ila, iti'imèè

contoh:

rumah yg sana "em balè ne'imèè/iti'imèè/iti'ila".

Kata2 "ne'imèè, iti'ila, iti'imèè" dari kata2 "ne'i, iti'i"

diberi encliticae "-mèè" dan "-la" yg menunjukkan arah -kesana- .

Yang ada disana (di jauh) "mene'imèè".


Kata Ganti Tanya (untuk manusia; jika dimaksudkan -orang dari jenis apa atau jabatan apa; juga bagi binatang)

siapa? "sèi": tunggal "si sèi"; jamak "sè sèi".

apa? "sapa": tunggal "si sapa"; jamak "sè sapa".


Mana "wisa"; dimana "waki wisa" (dgn memaksudkan tempat)

untuk manusia:

yg mana? "si wisa" (tunggal); "sè wisa" (jamak);

untuk benda:

yg mana? "em bisa".


KATA-KATA PENGHUBUNG


Kata penghubung terutama adalah "wo" = dan;

ump. "si Lorè wo si Pètu sè matuari" = Laurens dan Petrus adalah bersaudara.


Kata "wo" berarti pula "lalu"; dengan maksud menghubungkan sesuatu yg berada dalam hubungan yg bersifat akibat;

ump. "èdonami ni'tu wo sia rumoyor" = setelah diambilnya itu, lalu ia turun.


Kata2 penghubung dengan sifat mengumpulkan;

-(p)è' "lagi, masih" (enklitica).

ampit "dengan".

wo en esa, wo e nesa "lagi pula, dan lagi".


Kata2 penghubung dng sifat menyatakan perlawanan;

"ta'an" = tetapi;

"ma'an" = biar;

"ma'angkan tuana" = biarpun demikian;

"malèngkan" = melainkan;

"ka'apa" = atau;

"ka'a" = sebab, karena;

"paäpa'an" * = karena. * bahasa tua/kuno.


Kata2 penghubung selanjutnya:

"sa" = jikalau;

"sa wo itu" = jika begitu;

"ka'ayo" = hingga;

"makar" = hingga, sampai;

"ma'an"

si teweken! nèi kakepel-sèlok wo itu nèimoukatèa' sangawètèng nangku patik.

(cubinèskèr! pi tatindis-sala kong ta ilang sabagèang tu kita ada tulis).


"ma'an" = apalagi;

"makari ni'tu" = sejak waktu itu;

"murila ni'tu, murimi ni'tu" = kemudiannya;

"luarela" = kecuali;

"i ki'it, i lèlè' " = menurut (ceritera);

"rior" = supaya;

"tumodongela (-ni'tu)" = selanjutnya;

"wo'opè' " = sedangkan.-


KATA=KATA SERU

astaga! * "o da'kèi"; * b Blanda "o..hemel";

bukang maèng (takjub) "kaèla, kaèlaw, da'kèi";

cis (rasa benci) "ineng";

cubinèskèr! (keheranan) "korobiang";

do è! (kurang yakin) "e dè', en dè', indè' ";

hèi! "è, èi ";

ihhh! (memalukan) "sesè' ";

itu lèi kua'! (itulah!) "wo kua' ";

kahèranang "o pasil";

kapo' (rasain) "kedo' ";

kèndo'on! (emangnya) "kepa'aru";

kurangèkor (sialan) "si teweken, korobiang);

nya' stuju "odè";

o kotè! (iya ya) "o dè'èn";

o komang! (masa iya) "o dèira, o kouman";

otè! (ayo!) "inta";

o tuang! (amboi) "è sangali, o siwèèn";

pitafèl! (bayangkan) "wo mama' ";

rasa- kasiang,tako (merasa- iba, takut) "o wèlegh";

rasa pastiu (agak jemu) "isè";

sadiki manyasal (sedikit menyesal) "o ika' ";

sènang (bersuka) "irrr, èis";

tuangali, tuangana (bukanmain) "kaèlaw, kèalaw, o wèlew";

ya no! (waduh) "en dè' ".-


ENKLITIKA/ENCITICAE (Lekatan ahir)

Dalam bahasa Toundano "enklitika" dapat kita bagikan dalam 5 bagian:

1. penunjuk arah;

2. yang bersifat adverbium (kata tambah);

3. gabungan;

4. penunjuk waktu;

5. possessivum (kata ganti/punya).


1. "Penunjuk arah"

Penunjuk arah dpt dibagi dua; yaitu a. ke sana dan b. ke sini;

ke sana "-(m)aè > -(m)èè" dan "-la".


Perbedaan antara dua ini:

"mèè" menunjukkan jarak yg jauh; atau orang yg ditujukan berada dekat tapi ia sedang berangkat (dari si pembicara) dgn katalain bergerak ke sana (bersifat dinamis).

Sedangkan pada "-la" menunjukkan jarak yg agak dekat, pada orang yg berada agak dekat, yg dituju itu tidak bergerak (bersifat statis).

"-la" sering juga dipakai dgn arti -sesudah- (b Bl: nadat);

"-la" terjadi dari kata-dasar "laa" = pergi;

"mèè" dari kata-asal "aè" = pergi; "maè" jarang dipakai yg lazim ialah "mèè" (adalah bentuk baru dari "-maè").

a. ke sana "-(m)èè"

contoh:

"tuana sèa ikaäyomèè mana e nodolan ni èdo" =

dengan demikian sampailah mereka di tempat matahari terbit.

"ru'urenèè kèi wo i li'lipèè kaäyo mana sangaweka =

dukunglah kami dan renangkanlah sampai ke sebelah.

contoh "-la":

"i wèèla nisia e labungena" = berikan padanya bajunya (d arah pembicara).

"sèi si mengila-ngila'la nisia" = siapa yg mengata-ngatakan padanya.

"i tèbo'la witu eng kedir sia" = benturkan kepalanya pada dinding".

b. ke sini "-mi" (adalah penguncupan asalkata "ai" = datang)

contoh:

"sèi si minèèmi eng kupang" = siapa yang memberikan uang.

"niaku ku limaami waki si Utu" = saya telah pergi pada Utu.

"pengi'itenami wo binantal" = diikuti dengan sebuah bungkusan.


2. Yang bersifat adverbium

a. Terutama ialah "-(m)ou" yang sangat tersebar; kekuatan dari kata "-mo"

ini yg dapat disambungkan pd berjenis-jenis kata-kata untuk menguatkan arti kata tsb, dengan memberi lebih tekanan pd tempat pula dlm fungsi kalimat. Pada kata-kata susunan kalimat "-(m)ou" mengandung arti -sudah, telah (telah berlaku).

contoh:

"kèi kimaanou waya" = kami susah makan semua.

"tina'ananou we'tes si ko'ko' " = sudah dipasangkan jerat ayam itu.

"si limaamou mana em Bènang sè urangku" = anak2 saya sudah ke Manado.


Pada imperatif (memerintah) sering digunakan arti yg melemahkan.

contoh:

"kumaanou" = makanlah.

"kèlangou" = berjalanlah.

"wèanou" = berikanlah.


Pada kata-kata yg berbentuk ditasrifkan.

contoh:

"siwongkumou" = akan segera saya buat.

"laangkumou" = akan saya pergi buat/ambilkan.


b. Enklitia "-(p)è' " mengandung arti -lagi, masih-, juga dgn arti -sedangkan-

contoh:

"niakupè' si lumaa" = saya dulu yang pergi.

"nikoopè' si ma'ayang" = engkau lagi yang bermain.

"si oki'pè' " = ia masih kecil.

c. Enclitica -itè (-tè) mengandung arti "hanya, saja, cuma".

contoh:

"niaku-itè" = hanya saya.

"makèlangitè" = hanya berjalan.

"en esaitè, e nesaitè" = sebuah saja.

d. Enclitica -kan mengandung arti "juga, toh dgn tidak disangka-sangka".

contoh:

"niaku-kan si lumaa" = saya juga yg pergi, toh sayalah yang pergi.

"kinulilitangkan ni leloi' eng kaai" = dilingkari juga oleh ular kayu itu.

"si minèikan rè'èn" = jadi dia toh datang juga.

e. Enclitica -kè mengandung arti "kata orang, menurut kata orang".

contoh:

"wawèang-kè sè sangaäwu makaurang siuw" = kata orang ada suami-istri menaruh sembilan orang anak.

"ya em balènèakè mana 'mbanua li'lik e lawanan" = kata orang rumah mereka ada di pinggir pantai.


3. Encliticae gabungan.

Encliticae yg bersifat adverbia dpt digabungkan satu dengan lain, atau dgn encliticae penunjuk arah. Setiap gabungan itu dpt didahului oleh encliticae possessiva (kataganti milik), jikalau kata yg didahuluinya adalah kata kerja. Kemungkinan2 gabungan dlm b Toundano adalah sebagai berikut:

-(p)è'kè "laapè'kè" = pergi dahulu katanya.

-(p)è'mi "wèèpè'mi" = berikan dahulu ke sini.

-(p)è'la "wèèpè'la" = berikan dahulu.

-(m)oitè "niakumoitè" = barulah saya saja.

-(m)okan "niakumokan" = nantilah saya (yang...).

-(m)okè "nisiamokè" = dialah katanya.

-(m)okanitè "rei' mokanitè" = bukan saja (kali ini).

-(m)okela "wèèmokela" = nanti diberikan (padanya).

-(m)okèla "wèèmokèla" = berikan sajalah (katanya).

-(i)tèmi "laanitèmi" = hanya ikut di ambil.

-(i)tèmèè "wèèitèmèè" = hanya diberikan besertanya.

-(i)tèla "wèèitèla" = hanya diberikan (padanya).

-kanitè "rei' kanitè" = bukan saja.

-kangkè "rei' kangkè" = tidak juga katanya.

-kangkèla "i wèèkangkèla" = diberikan jugalah (kepadanya).

-kangkèmi "i wèèkangkèmi" = diberikan(nya) juga pd (saya).

2c. Enclitica -itè (-tè) mengandung arti "hanya, saja/jo, cuma".

contoh:

"niaku itè/niakutè' "= cuma kita.

"makèlangitè"= hanya bajalang.

"en esatè"= satu jo.

2d. Enclitika -kan mengandung arti "juga/lèi, toh dengan tidak disangka-sangka/asi nya' sangka-sangka".

conto:

"niakukan si lumaa"= saya juga yang pergi, toh sayalah yang pergi.

"si minèikan rè'èn"= jadi dia toh datang juga.

2e. Enclitica -kè mengandung arti "kata orang, menurut kata orang".

-kè dalam bahasa Toundano merupakan kata dasar dari -kinè-

(bentuk -in dari kè).

contoh:

"wawèangkè sè sangaäwu makaurang siuw"= kata orang ada laki-istri menaruh sembilan orang anak.

"ya em balènèakè mana em banua li'lik e lawanan"= kata orang rumah mereka ada di pinggir pantai.

3. Encliticae gabungan.

Encliticae yang bersifat adverbia dapat digabungkan satu dengan lain, atau dengan encliticae possessiva, jikalau kata yang didahuluinya adalah kata kerja. Kemungkinan-kemungkinan gabungan dalam bahasa Toundano adalah sebagai berikut:

-(p) è'kè: "laapè'kè"= pergi dahulu katanya.

-(p) è'mi: "wèè pè'mi"= berikan dahulu ke sini.

-(p) è'mèè < -(p)è'maè: "wèpè'mèè"= berikan dahulu (kepadanya).

-(m) oitè: "niakumoitè"= barulah saya saja.

-(m) okan: "niakumokan"= nantilah saya (yang...).

-(m) okeni: "wèèmokeni"= nanti diberikan (kepadanya, jika datang ke sini).

-(i) tèmi: "laanitèmi"= hanya ikut di ambil (dari sana ke sini).

-(i) tèla: "wèè itèla"= hanya diberikan (kepadanya).

-kangkè: "rei' kangkè"= tidak juga katanya.

-kangkèmi: "i wèèkangkèmi"= diberikan(nya) juga kepada (saya).

-kanitèkè: "rei' kanitèkè"= bukan sajalah... .

-kela: "ti'ikela"= itulah (rumahnya dsb).

-kèla: "wèèkèla"= berikanlah katanya.
 
 
Bert Toar Polii, Group Facebook Mari Belajar Bahasa Tondano
11:58 | 0 comments

Penjelasan singkat tentang membaca dalam Bahasa Toudano

Ejaan Bahasa Tondano disusun menurut Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Di bawah ini ada beberapa penjelasan mengenai huruf bahasa Tondano yang tidak sama dengan Bahasa Indonesia.

Huruf 'e' diucapkan seperti 'e' pada “enam” dan “elang”
Contoh:

tewel – tajam

Huruf 'é' taleng diucapkan seperti 'e' pada kata “meja” dan “besok”
Contoh:

téwél – terbang

Huruf 'g' diucapkan 'g' pada kata “garis” dan “gagah”
Contoh :

legu’ – bunyi

regak – muncul

Bunyi guttural 'gh'
Contoh :

ghenang – pikiran, ingatan

ghio – wajah

Dalam bahasa Tondano, beberapa kata diawali dengan huruf 'r' bila didahului bunyi sengau 'n' pengucapannya akan berbunyi sengau 'd'. Penulisannya mengikuti kata dasar. Contoh:

Secara berurutan

ditulis: en raa' (darah); en rano (air); en rui (tulang)

dibaca: e ndaa', e ndano, e ndui


Pada awalan pembentuk kata perintah 'i' ditambah dengan kata dasar yang berawalan huruf vokal (a, u, i, e, o) akan terjadi bunyi luncuran 'y'.

iayat (angkat, hunus) dibaca 'iyayat'
iayo (sampaikan, ceritakan) dibaca 'iyayo'

Pada pertemuan huruf 'n' dan 'k' tercipta bunyi 'ng' 
ditulis: 'alinkumokan' (nanti saya bawa) dibaca 'alingkumokan'

Pada pertemuan 'ng' dan 'l' terdapat bunyi sisipan 'e'
misalnya ditulis: tumodongla ni'itu (setelah itu) dibaca tumodongela ni'itu.

Untuk kata yang diawali dengan huruf 'w' dan didahului dengan partikel 'em', pengucapannya akan berbunyi 'b'. Penulisannya juga mengikuti kata dasar.

Secara berurutan

ditulis: em walé (rumah), em wéné (padi, benih), em wuter (berat)

dibaca: e mbale; e mbene; e mbuter

Bunyi sengau terjadi antara partikel dan kata yang mengikutinya. Dalam tulisan, bunyi sengau ini digabung langsung pada partikel, bukan pada kata yang mengikutinya.

Contoh:

e lo'ong – tengkuk

em pinedam – dirasakan

en tetéboan – jendela

eng ghenang – ingat

Glotal atau hamzah (') ditulis untuk membedakan kata yang penulisannya sama namun sebutannya berbeda, demikian juga dengan artinya.

Contoh:

wawa – basi

wawa' – bawah

wa'wa' – coba



wou – bau

wo'u – kura-kura

wou' – dibasahi


Bunyi glotal tetap ditulis diantara dua vokal yang sama.
Contoh:

paa – loteng

kiit – habis

soo – mana


pa'a – paha

ki'it – ikut

so'o – tidak mau


Dalam bahasa Tondano, terdapat tiga dialek. Perbedaan ini dapat juga didengar dalam pengucapan beberapa kata, serta juga beberapa kata yang berlainan:

Berurutan Tondano Kakas, Remboken, Indonesia

lodéi – lodéi – londéi: perahu

rebur – rebu – rembur: gemuk

léé’ – léé’ – léhé’: leher
00:07 | 0 comments
23:34 | 0 comments

ORANG MINAHASA MASIH MENGGUNAKAN WARUGA SAMPAI TAHUN 1908

Oleh : Jessy Wenas

Pemakaman jenazah kedalam batu WARUGA adalah pemakaman di atas permukaan tanah, batu WARUGA terdiri dari dua bahagian yakni batu segi empat berbentuk peti batu karena berongga di dalamnya dan batu segi tiga berbentuk atap rumah, yang berfungsi sebagai penutup . Pada batu segi empat yang berongga itulah jenazah yang meninggal di masukkan, kemudian di tutup dengan batu segi tiga, agar jenazah tidak berbau maka pada celah-celah antara batu segi empat dan batu penutup diberi tanah liat putih.

Beberapa penulis seperti F.S.Watuseke menganalisa bahwa orang Minahasa meninggalkan kebiasaan memakam-kan jenazah kedalam batu WARUGA disebabkan oleh bencana alam dan penyakit hingga banyak orang meninggal seperti wabah cacar thn 1819 yang menelan korban 1/6 penduduk Minahasa meninggal, kemudian wabah penyakit campak thn.1853 yang menelan korban 12.821 orang meninggal. Kalau kita membaca tulisan-tulisan mengenai WARUGA Minahasa dewasa ini, memang banyak yang memberi kesan bahwa orang Minahasa telah meninggalkan kebiasaan memakamkan jenazah kedalam waruga sejak memasuki tahun 1800-an , hingga upacara memakamkan jenazah serta arti relief gambar ukir pada batu waruga, tidak lagi di ketahui orang Minahasa sekarang ini. Arti gambar-gambar ukir pada batu WARUGA tidak pernah di analisa para penulis barat seperti penulis Bertling dalam bukunya Hoker Bestatung seorang peneliti yang paling ahli mengenai WARUGA Minahasa. Untuk dapat mengetahui arti gambar pada batu WARUGA adalah dengan cara membaca kembali jalan pikiran orang Minahasa mengenai arti hidup dan mati pada satu abad yang lalu.

Pada kesempatan saya pulang kampung ke Minahasa, pada bulan januari tahun 2001 ini saya menemukan WARUGA-WARUGA keluarga terhormat di kampung Matani dan Kolongan Tomohon. WARUGA itu sudah berantakan karena bekas di bongkar maling untuk mengambil benda berharga yang ikut di masukkan bersama jenazah kedalam batu waruga , lokasinya di pemakaman lama dekat rumah sakit " Gunung Maria" Kolongan Tomohon.

Hubungan batu WARUGA dengan keluarga terhormat, adalah bahwa hanya orang-orang terkemuka di masyarakat yang jenazahnya dimakamkan dalam batu WARUGA, seperti Kepala walak, hukum besar,hukum kadua,hukum tua, dan tokoh masyarakat yang tergolong punya kekayaan. Karena pemakaman dengan menggunakan WARUGA memerlukan biaya besar hingga harus juga dibantu oleh keluarga besar si yang meninggal, misalnya biaya untuk para tukang untuk membuat WARUGA ada upacara adatnya yang harus disertai makan -minum. Biasanya batu WARUGA dibuat atas pesanan sebelum si pemesan itu meninggal, bila telah maninggal baru kemudian memesan WARUGA maka biayanya menjadi sangat tinggi. Dari ketentuan ini dapat di ambil kesimpulan bahwa walaupun ada wabah penyakit yang menyebabkan banyak penduduk sebuah kapung,desa atau negeri meninggal dunia termasuk beberapa tokoh masyarakatnya. Maka hanya beberapa orang tokoh masyarakat itu yang di makamkan kedalam WARUGA, arti WARUGA adalah gabungan dari dua kata WALE artinya rumah karena WARUGA berbentuk rumah batu, dan RUGA atau ROGA artinya terbongkar hancur, WALE-RUGA atau WARUGA punya arti rumah tempat menghancurkan jasad tubuh manusia menjadi tulang-belulang sebagai proses pemakaman pertama, pemakaman kwedua adalah mengambil tulang-belulang itu untuk dimasukkan kedalam peti kayu "Walongsong" untuk upacara pemakaman kedua. Oleh karena itu ada beberapa WARUGA yang digunakan lebih dari satu kali, ada WARUGA yang tidak dapat lagi kita temukan tulang-belulang manusia di dalamnya. Orang Minahasa meninggalkan adat kebiasaan memakamkan jenazah kedalam batu waruga berlangsung tahap demi tahap dari generasi kegenerasi sejalan dengan perobahan masyarakat Minahasa.

PEROBAHAN MASYARAKAT MINAHASA
Karena WARUGA-WARUGA di Kolongan Tomohon itu ber-angka tahun sekitar memasuki tahun 1900 nampak jelas bahwa cara-cara tradisional membuat WARUGA telah berubah dari generasi sebelumnya . WARUGA lama tidak mengukirkan nama, tanggal,bulan dan tahun si yang meninggal, tapi hanya ukiran motif hias seperti gambar manusia, tanaman,binatang, dan simbol-simbol lainnya. Hingga apabila pihak keluarga dari generasi lalu melupakan WARUGA itu, maka generasi sekarang tidak lagi mengetahui dotu siapa pemilik atau yang di makamkan kedalam WARUGA tersebut, hingga banyak sekali WARUGA Minahasa tidak di ketahui lagi milik keluarga siapa , apalagi WARUGA yang berasal dari ratusan tahun lampau.

WARUGA di kolongan Tomohon dekat rumah sakit "Gunung Maria" tidak lagi diberi ukiran hiasan motif manusia, binatang atau tumbuhan, tetapi mengukirkan keterangan orang yang dimakamkan kedalam WARUGA tersebut antara lain , Th.T.MANGUNDAP meninggal 5-7-1899, ELI AROR meninggal 8-5-1899, KATARINA ANES meninggal oktober 1895, M.A.MANGUNDAP meninggal 22-7-1900, N.PALAR ( Rusak tidak terbaca),J.SAKUL meninggal 24-4-1900, A.RAPAR.meninggal th.1901, A.POLII mati 24-5-1905 , E.WALUJAN mati 21-6-1906, KSALAKI mati. 11-2-1907 , E.AROR. mati 28-4-1907, dan WARUGA terbesar dengan batu segi tiga penutup berukuran panjang 1.25 Cm adalah kubur batu dari DANIJEL WALALANGI umur 73 tahun mati 24-11-1908.

Kalau kita lihat nama-nama pemilik WARUGA itu sudah punya nama kristen dan barangkali proses kristenisasi yang menyebabkan orang Minahasa meninggalkan kebiasaan memakamkan jenazah kedalam WARUGA.Kita lihat masuknya agama kristen di Minahasa sudah dari abad 16 ketika bangsa barat Portugis dan Spanyol membawa agama Katolik ke Minahasa. Tapi agama kristen Protestan masuk Minahasa melalui misi Zending Belanda baru mulai tahun 1831 mengirimkan pendeta-pendeta bangsa Jerman seperti J.F.Riwedel beroperasi di Tondano, J.G.Schwarz beroperasi di Langouwan dan Tonsea, N.Ph.Wilken di Tomohon. Kuranga Tomohon mulai ada sekolah tahun 1852 dan kemudian thn.1866 di dirikan sekolah penulong injil ( guru agama merangkap guru sekolah). Dan tahun 1868 setelah 37 tahun proses protestanisasi maka misi Katolik kemudian mulai bergiat lagi, ditahun itu juga terbitlah koran " Cahaya Siang" yang di cetak di Tanah wangko. Menunjukkan bahwa orang Minahasa mulai tahun 1868 sudah memasuki masyarakat moderen sudah menulis di koran dan sudah membaca koran berarti sebahagian besar orang Minahasa tidak lagi buta huruf.

Perubahan orang Minahasa dari masyarakat alifuru ke-masyarakat modern dapat kita baca dari tulisan laporan perjalanan ilmuwan Inggris Alfred Russell Wallace yang tiba di Tomohon-Minahasa thn.1859. Dia di jamu oleh kepala walak atau hukum besar Tomohon (A.R.Wallace) menuliskan istilah " majoor", bernama ROLAND NGANTUNG PALAR berbusana serba hitam ( jas hitam,celana hitam,sepatu hitam) mereka berceritera dalam bahasa melayu-Manado, makan di meja gaya barat ada waskom tempat cuci tangan dan serbet. Tapi di sebelah rumah dari majoor R.NGANTUNG PALAR ada rumah tinggi kecil yang berhiaskan tengkorak-tengkorak manusia, rumah itu adalah rumah dari ayah majoor Tomohon R.NGANTUNG PALAR yang sebelumnya adalah kepala walak Tomohon yang pernah ikut perang Jawa tahun 1829-1830. Disini terlihat bahwa ayah ( PALAR) dan anaknya ( R.NGANTUNG PALAR) sudah hidup terpisah oleh jaman peralihan dimana mulai tahun 1850-an masalah kejantanan kepemimpinan tidak perlu lagi di tunjukkan dengan menggantungkan tengkorak lawan di depan rumah tinggal.

Setelah tahun 1900 modernisasi masyarakat Minahasa makin mengalami kemajuan, kita lihat tulisan dari seorang penulis Inggris Walter.B.Harris dalam bukunya " An excursion in Minahassa", thn.1929 halaman 209 ........Christianity, education, and civilization have turned these once wild people into an orderly, highly respectable community. The result is interesting, for while they have adopted European religion, dress and customs they have not completely discarded their past habits, their houses are still native. ....... Kristenisasi, pendidikan dan modernisasi masyarakat telah merobah kehidupan orang Minahasa yang tadinya masih buas, mereka telah mengambil agama orang Eropah ( agama kristen), adat kebiasaan dan cara berbusana, tapi belum meninggalkan kebiasaan lamanya termasuk rumah adatnya. Tulisan dari Walter.B.Harris ini menyadarkan kita kembali sebagai orang Minahasa, bagaimana tanpa disadari kita orang Minahasa sekarang ini sudah berpikiran barat. Dan awalnya adalah dari proses yang lama jaman Portugis-Spanyol abad 16, jaman VOC mulai thn 1679 dan jaman Belanda mulai thn 1830-an.

WARUGA-WARUGA orang kristen di Tomohon belum pernah di teliti para ahli luar negeri, apalagi peneliti dalam negeri yang serba kekurangan dana. WARUGA-WARUGA itu menunjukkan bahwa orang Minahasa di Tomohon thn.1895-1908 walaupun sudah mengenyam pendidikan dan dapat membaca menulis, sudah memakai nama Kristen berarti sudah beberapa generasi masuk kristen, tapi masih di makamkan kedalam batu waruga . Dari keadaan batu kubur WARUGA mereka yang berantakan , batu segi empatnya dilobangi untuk diambil benda "bekal kubur", dan batu penutup segi tiga terguling jatuh. Menunjukkan bahwa pada pemakaman di Batu WARUGA thn.1895-1908 itu, masih melakukan upacara adat lama dengan memasukkan "bekal kubur" barang-barang berharga seperti piring porselein antik, perhiasan emas, kalung,gelang,anting,medalion, yang dalam bahasa Minahasa (Tombulu) ; " Ringkitan" - " Kokulu" ( gelang emas ), " Pinepel"- " Tinataokok" - " Kamagi " ( kalung-kalung emas), " ginontalon" ( medalion emas). Benda-benda berharga ini telah di masukkan kedalam peti batu WARUGA bersama jenazah pada pemakaman tahun 1895-1908 dan kemudian setelah orang Minahasa tidak takut lagi membongkar WARUGA mungkin setelah tahun 1930-an, maka batu kubur WARUGA orang-orang kristen di Tomohon itu di bongkar maling.

Dari data WARUGA kristen Tomohon dapat diambil kesimpulan bahwa orang Minahasa baru satu abad menjadi kristen ( 1900 - 2000) dan bukannya periode dua abad lalu ( 1800-200), artinya unsur-unsur Alifuru yang liar dalam diri orang Minahasa belum sama sekali hilang walaupun telah beragama Kristen dan telah berbudaya moderen.

theoelin.multiply.com
16:29 | 0 comments

CERITERA RAKYAT MINAHASA: KAWENGIAN, TOAR DAN LUMIMU'UT

Oleh: Jessy Wenas - Jakarta
Link to Facebook

Kita banyak mendengar ceritera rakyat Minahasa TOAR-LUMIMUUT tapi kita kadang tidak mengetahui asal mula ceritera itu dan bagaimana orang Minahasa dari generasi ke generasi tetap mengetahui jalannya ceritera tersebut. Ceritera ini termasuk MYTHOS ( Mite) karena pada jaman lampau orang Minahasa menganggap ceritera ini suci dan tidak sebarang di kisahkan, ceritera ini hanya dapat di nyanyikan pada upacara kusus seperti upacara RUMAGES asal kata "reges" artinya angin ataupun upacara MANGORAI, walau kisahnya sama tapi jalan ceriteranya berbeda. Ceritera MYTHOS berbeda dengan LAGENDA, yang disebut terahir tidak di anggap suci karena tokoh utama sebuah lagenda hanya berstatus manusia setengah dewa, walaupun kelak setelah leluhur lagendaris itu lama meninggal barulah leluhur itu menjadi dewa.

Ceritera TOAR-LUMIMUUT yang paling lengkap dan yang terbaik kita ambil dari buku " Uit Onze Kolonien" tulisan.H.Van Kol.terbitan thn 1903.halaman.160-165 dalam bahasa Tombulu " De Zang van Karema" ( nyanyian dewi Karema), seperti di kitahui dewa-dewi TOAR - LUMIMUUT adalah leluhur pertama orang Minahasa, kedua manusia pertama orang Minahasa yang menurunkan seluruh orang Minahasa itu ,telah dikawinkan oleh seorang dewi yang bernama KAREMA berwujud wanita tua. KAREMA, LUMIMUUT dan TOAR adalah dewa-dewi leluhur pertama orang Minahasa, sebelum mereka ada juga beberapa nama leluhur lainnya, tapi semua leluhur lainnya itu telah mati tenggelam ketika pada jaman purba terjadi banjir besar AMPUHAN atau DIMENEW yang membuat seluruh tanah Minahasa terbenam air kecuali satu puncak pegunungan wulur Mahatus di Minahasa selatan, demikianlah menurut ceritera mithos Minahasa, dan ceritera dibawah ini dimulai ketika banjir besar itu telah berlalu. Dinyanyikan oleh seorang wanita tua dalam jabatannya sebagai WALIAN TUA (pemimpin Walian) pada upacara RUMAGES, wanita tua itu akan berperan sebagai Dewi-Karema. Setiap satu syair dinyanyikan, maka penari " Maengket Katuakan" akan menyambut dengan menyanyikan bahagian refrein...."Eeeeh Rambi-rambian" artinya " bunyikanlah gong perunggu" ( Rambi = gong perunggu), nyanyi- an itu adalah sebagai berikut, mulai syair pertama yang langsung diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia , dari ceritera inilah sumber utama MINAHASANOLOGI mengernai agama asli, kepercayaan, seni budaya, dan adat kebiasaan orang Minahasa.



--------------------------

SYAIR PERTAMA :



Oooh Talingan nio untenge minatontonai …….Eeeeh Rambi-rambian.

artinya :wahai dengarkanlah ceritera yang telah di turunkan…….bunyikanlah gong

Si minatontonai wanam puruk u langit ………. Eeeeeh Rambi-rambian

Artinya: ceritera yang telah diturunkan dari atas langit………….bunyikanlah gong

Si zei^kan meilengkaz, wo mawia-me dungus intanak…Eeeh rambi-rambian

Artinya ; Dia ( Karema) tidak dilahirkan ketika datang dan ada di muka bumi..bunyikan gong

Si karengan nimatoume, mei kolote um batu …..Eeeeh rambi-rambian

Artinya ; Dia (Karema) lahir bersama-sama dengan batu yang meletus….bunyikan gong





TULISAN BERIKUTNYA, REFREIN LAGU RAMBI-RAMBIAN TIDAK DITULIS LAGI,AGAR LEBIH MUDAH MENGIKUTI JALAN CERITERANYA.



SYAIR KEDUA :



Niakumo si mahawe^ena^ase , yah wiamo angka^aya^an

Artinya: Sayalah pemberi ingatan kesadaran berpikir, dan saya telah ada didunia ini.

Yah werenanku an tanak, leme^ loyo kampe

Artinya: Aku lihat tanah permukaan bumi masih lembut berlumpur(karena banjir besar )

Si suatan ma^ra^ar , sumena-sena^

Artinya : Tapi bersama itu sinar matahari bercahaya terang

Ta^an kangkasi^I , umpele-peleng zima^I – za^I

Artinya : Tetapi juga kesemuanya itu terasa menyenangkan



SYAIR KETIGA:



Wo Aku sumaru , sendangan timu

Artinya ; lalu aku menghadap arah tenggara

Yah, sinumpak um berenku , un Akel Matutung

Artinya : Mataku dihadang oleh pemandangan sebatang pohon Aren (pohong saguer)

Yah , Tumarak-tak , an tali watu ma^ragos

Artinya : Dan terdengar bunyi gemeretak, buah pohon Aren jatuh ketanah

Wo ni^ilek-ku tawi ni^itu, sumo^so^ane me-ngasin

Artinya; Dan kulihat dekat pohon itu, ada sungai yang airnya mengalir kelaut



SYAIR KEEMPAT :



Wo mawiling Aku , sumaru sendangan Amian

Artinya: Lalu aku memutarkan badan menghadap arah timur laut

Yah , kina patesanku , un Asa retik

Artinya : dan perhatianku tertuju pada pohon “Asa” (kano-kano, jelaga)

Yah ma^tou karete ni^itu , un Tu^is Rarawir

Artinya : Dan yang bertumbuh dekat itu adalah pohon T u ^ I s (Jenis pohon batang Lembut )

Wo rimuru^ ma^wire-wirei , u la^it um bene^

Artinya ; dan yang dipojok itu nampak melambai adalah pohon “ daong nasi “



SYAIR KELIMA :



Tumondong Aku mapa-saru , Amian talikuzan

Artinya : Kemudian itu aku menghadap arah Barat laut

Yah , kina werenanku witu , um-Bangelei ne Kotulus

Artinya : Dan nampak olehku, tanaman obat “Wangelei” ( Tumulawak)

Yah Karuru^ karete ni^itu , um Bawali Kundamah

Artinya ; Dan dipojok dekat situ , ada tanaman “ Wawali Kundamah” (pohon Kencur)

Yah minalung ni^itu , un Tewasen ne Rumopa

Artinya ; Dan pohon yang menaungi tempoat itu adalah pohon “ Tewasen” (pohon katu)Yang batangnya menghasilkan sagu .



SYAIR KE-ENAM :



Kamurian Aku mapasaru , Timu^ talikuzan

Artinya : kemudian aku menghadap arah , barat daya

Yah, kapatesanku ma-witu , un Ayamen ka^ukur

Artinya ; Dan pandanganku tertumbuk pada pohon “Ayamen” (Silar, daun tikar)

Yah sana remong witu , un-Tambelang Tumitikak

Artinya : Dan satu rumpun dengan itu, adalah pohon bambu “ Tambelang”(bulu ikang)

Ta^an un antang witu nate Si Raraha, menorome niaku

Artinya :Tapi (dari arah itu), hati dan kemauan si gadis (Lumimu^ut) sudah teguh dan dia berjalan lurus ke-arah saya ( Karema).



SYAIR KE-TUJUH :



Liwaganku sia , sa apa u ngarana

Artinya : Aku bertanya kepadanya , siapakah namanya

Yah Ongah u nuwu^na mingkot sia , LUMIMU^UT u ngaranku

Artinya: Dan dengan jelas di menjawab pertanyaan saya bahwa namanya LUMIMU^UT

Yah tentu kang-kasi^I, Sia Limiwaga u ngaranku

Artinya ; Dan begitu juga lagi dia (Lumimuut) menanyakan nama saya.

Wo Totozenku u ngaranku , KAREMA ne Rumarages

Artinya ; Lalu aku tegaskan nama saya : KAREMA pendeta upacara agama “Rumages” .



SYAIR -DELAPAN :



Witu kai ma^esa^an sana zizikezan, tu le^os wo u lewo

Artinya ; Mulai waktu itu kita bersatu saling terikat dalam suka mapun dalam duka

Yah sanawali mo kai, I minange witu Mapawe^a-we^an

Artinya ; Dan bersama-sama kita pergi ke-tempat tinggal kita

In toro-itu , kai Timou mina^elu-eluzan mahwatu

Artinya : waktu itu kita berdua hidup berkasih-kasihan dan menyatu

Yah , witu kai lawiz , wo zei^kazei^an

Artinya : Dan disitulah kita hidup diberkati dan senantiasa berkecukupan



SYAIR KE-SEMBILAN:



Pina^aleiku wia nisia , Wehane A^asaren Aku

Artinya; Aku (karema) mintakan kepadanya , berikanlah ceritera kepadaku

Sa sei si Ama^na , wo sei si Ina^na

Artinya: Kalau siapa Ayah-nya dan siapakah Ibunya

Sa kura u lalana, angika ayome wia

Artinya : Dan bagaimana caranya, hinga dapat tiba disini (di Minahasa)

Wo kura um pa’az-na, in Tumou wia

Artinya : Dan bagaimana keinginannya, hidup disini (di Minahasa)



SYAIR KE-SEPULUH :



Yah ongah u nuwuk’ku ing kumua wia ni sia

Artinya : Dengan jelas aku berkata kepada-nya (Karema)

Wewe’an un Aoan nah-gio-gioan, ang kenap-sena’na

Artinya : Ada bukit-bukit yang berhadap-hadapan, yang terang dengan cahaya

Ni itu ya tanu lalem-lalemdeman, wo tanu zuni-zuni’an

Artinya : Tempat itu nampak seperti berkabut awan, dengan warna seperti pelangi

Ya wituma un Arina, Linengkaran niaku

Artinya : Disanalah tempatnya, aku dilahirkan



SYAIR KE-SEBELAS :



U ngaran nei ketor um pusez ni Inaku-ku en WENGI

Artinya : Nama ketika tali pusar dipotong dari ibu adalah WENGI

Yah si Ama’ku ka’uman, wen KAWENGIAN u ngaranan

Artinya : Dan ayahku, bernama KAWENGIAN

Ni Sera se timau’ niaku, witu um bantang

Artinya : Mereka (Ibu dan Ayahku) yang memasukkan aku dalam perahu-rakit

Ni sera se nimayome niaku, witu u louz

Artinya : Mereka (Ibu dan Ayahku), yang telah mengayunkan ke-laut.



SYAIR KE-DUABELAS:



Si Ina’ku si Simi’si’me, witung kikile’ku kakan

Artinya : Ibuku telah menyelipkan, pada ketiak-ku sebelah kanan

Un Sinaputan, an ipa’pespes, wo un Atelu’ Esa

Artinya : Satu Bungkusan disemaikan, dan satu butir telur

Si Ama’ku Ka’ uman si simipsipe, witung Kawi’i

Artinya : Dan Ayah-ku telah menyisipkan, di (ketiak-ku) sebelah kiri

Un Uka’ Winutame, am batuna Tumou – tou

Artinya : Tempurung di isi penuh dengan biji-bijian besar yang dapat bertumbuh.



SYAIR KE-TIGABELAS:



Um Bantang – ku ayur wo Lembo, Limaya’ wo uma’lending

Artinya : Perahu rakit-ku hanyut dan timbul (dipermuka’an laut), dipermainkan (Ombak) dan bunyi berderak-derak

U Limingke-lingkey, endo wo wengi

Artinya :Dan bergoyang-goyang (kekiri, kekanan, kemuka, kebelakang), siang dan malam.

Ya naigom aku wo ika-tekel, zie’mo si genang-ku

Artinya :Dan aku mabuk-laut hingga tertidur, dan tidak sadar diri

Le’os Limengki’ um bantang, simangkil wurias

Artinya :Untunglah tertumbuk perahu rakit-ku, tersandung benda keras



SYAIR KE-EMPATBELAS :



Tare Aku Mapolo, woan ma’we’ena’as ung genang-ku

Artinya : Barulah aku terbangun, kemudian ingatan kesadaranku kembali

Yah, tana’ rimagos witun saput kakan, nimamualimo un tana’ kenu

Artinya : Dan tanah yang terbungkus di (ketiak) kanan-ku yang terjatuh telah berubah menjadi tanah (minahasa) ini

Ka’ uman um batuna I peresouw, timoumo wangun sombor

Artinya : Dan lagi biji-bijian untuk di hamburkan, telah tumbuh menghijau

Ya un atelu’ e minawalui-ye, tatamun-tuan

Artinya : dan Telur itu telah berubah menjadi binatang-binatang



SYAIR KE-LIMABELAS :



Yah Wisamo dei mei-ayur, kita winaway minasungkul wia

Artinya : Kemanapun dia yang telah dihanyutkan ( kelaut ), kita (berdua saya dan karema) telah bertemu di tempat ini.

Ni iamo Ka’pa un tinouw-Toouwan-ta in dua

Artinya : Sudah beginilah atua sudah inilah kehidupan kita berdua

Niaku eh ma’ayang, akaz I lumomei u mu’u unggio

Artinya : Saya (Lumimu’ut) akan bekerja, hingga (badanku) licin berkeringat sampai ke wajah-ku

Satoro Ka’uman, si menginalei Kalalawiz-ta in dua

Artinya : Tapi aku mintakan (pada Karema) kalau boleh, agar di doa’kanlah kebahagia’an hidup untuk kita berdua.



SYAIR KE-ENAMBELAS :



Laleyo un tou-touan nera, zei si kawenduan wo kalewo’an

Artinya :Telah lama mereka hidup, dengan tidak ada keluhan atau pederitaan

Si Karema si nime’an kura ung kawendu, sa zei’ si Tuama

Artinya : Karema memberikan pendapatnya bagaimana tidak bahagianya (seorang wanita) bila tidak ada lelaki

Ni Sia si Mahalez si kariana, si siga’ ka’uman ma’ lele-lele

Artinya : Dialah (Kaerma) yang menggerakkan temannya lumimu’ut karena (Karema) pandai membujuk agar kemaunnya di ikuti

Wo sera mondole witi rurag, wen miki rara’ate si Empung

Artinya : lalu mereka keluar dari lobang gua (tempat tinggalnya) untuk berdoa meminta pengasihan Tuhan



SYAIR KE-TUJUHBELAS :



Si Kaerma tare tumo’tol, ma-endo Walian

Artinya : Karema lalu menyiapkan upacara agama, dan bertindak sebagai Pendeta.

Yah I rondorna si Lumimu’ut, sumaru timu’ – sendangan

Artinya : Lalu diaturnyalah agar Lumimu’ut, berdiri menghadap tenggara

Si Karema menginalei ung kalalawiz ni lumimu’ut

Artinya : Karema berdoa minta kebagaiaan Lumimu’ut, tapi tidak terjadi apa-apa.

Si Lumimu’ut si zei’ si- torona, to walina’an u Rendaina

Artinya : Lumimu’ut tidak mendapat apa-apa, karena itu cara berdirinya dirobah arah



SYAIR KE-DELAPANBELAS :



A sia Sumaru un amian – sendangan

Artinya : Lalu dia dihadapkan ke arah timur laut

Si Karema menginalei, we’ane Kalalawiz si Lumimu’ut

Artinya :Karema lalu berdoa memintakan kebahagiaan untuk Lumimu’ut

Ta’an zei si wua’na, wen si Lumimu’ut zei’ si ka’ara’an

Artinya : Tapi tidak juga dibuahi, karena Lumimu’ut tidak merasa sesuatu

Si Karema zei’ mento’, an enso’ana u rendai ni Lumimu’ut

Artinya : Karema tidak berhenti berusaha, pindah arah berdiri Lumimu’ut



SYAIR KE-SEMBILANBELAS :



Si Lumimu’ut sumarulah un Amian-talikuzan

Artinya : Dan Lumimu’ut lalu berdiri kearah barat-laut

Si Walian Menginalei kasi’I, ta’an zei’ si Torona

Artinya : Pendeta Karema lalu berdoa lagi, tapi tidak diberi apa-apa

Ma’an dei’ si Wua’ na, Ta’an zei’ mento’ sia mengimbali

Artinya :walau tidak di buahi, tapi Karema tidak berhenti meminta doa dengan bersungguh-sungguh

Ni’itu Sia Sumaru-mo kasi’I sanaera, lumele si Karema

Artinya : karena itu dia menghadap lagi kearah yang lain, Karema membujuk (dalam doa-nya)



SYAIR KE-DUAPULUH :



Yah mera, a sumaru si Empung ti timu-Talikuzan

Artinya : Dan berpindahlah menghadap Tuhan di arah barat laut

Yah un Awa’at timu-Talikuzan, minehe za’I si Lumimu’ut

Artinya : Dan angin dari barat laut memberikan kesenangan yang diminta Lumimu’ut

Yah ne ilengkaz name, si utuk wangun

Artinya : Dan dilahirkanlah oleh lumimu’ut, anak bayi lelaki yang tampan

Nisia si lemekep ung katutu’a, wo ung Kalalawiz nera zua

Artinya : anak itulah yang melengkapi kebahagiaan kedua wanita itu sampai hari tuanya.



SYAIR KE-DUAPULUH SATU :



An sia ngaran-neralah, un Toa’ar

Artinya : Lalu dia dinamakanlah oleh mereka itu, dengan nama to’ar

Si To’ar timou-me, Totoz sombor zima’e

Artinya : To’ar tumbuh jadi pemuda yang jadi idaman mereka

Matu’a me sia, yah zime’e ung kasiga wo ung ketezen

Artinya : Ketika To’ar dewasa, lalu menjadi cekatan rajin dengan badan yang kuat

Si To’ar si Kalaya’ wo kaleong ni Ina’na, wo ni Walian

Artinya : To’ar menjadi teman bercanda dan bersenda gurau oleh Ibunya dan Pendeta Karema.



SYAIR KE-DUPULUH DUA :



Apa in sana endo, line’os un teken dua ni Kaerma

Artinya : Lalu pada suatu hari, Karema membuat dua batang tongkat

Un Teken Esa wen Asa, ta’an un esa wen tu’is Rarawiz

Artinya : tongkat yang satu dari Pohon Asa (kano-kano), tapi tongkat yang satu lagi dari pohon “Tu’is” diberikan pada ibunya

Si Karema ni-mutum ni sera, wia si empung

Artinya : Karema lalu berdoa menyerahkan kedua mereka kepada tuhan



SYAIR KE-DUAPULUH TIGA :



Karia u nuwu’ ketez, Kumua Sia wia ni sera

Artinya : Dengan suara nyaring, Karema berkata kepada mereka (berdua)

Nikamu yah Lumampang lumiklik, an Tana kenu

Artinya : Kamu berdua berjalan-lah mengelilingi tanah (Minahasa) ini

Niko To’ar yah Lumampang kumakan

Artinya : Dan Engkau To’ar, berjalanlah kearah kanan

Niko Lumimu’ut Lumampang Kumawi’i

Artinya : Serta engkau Lumimu’ut berjalan ke-arah kiri



SYAIR KE-DUAPULUH EMPAT :



Sa kamu masungkul, yah pa’ toro-nange an teken nio

Artinya : Kalau sampai nanti saling bertemu, bandingkanlah (tinggi) tongkatmu (berdua)

Kura u mamualina, an teken nio san

Artinya : Apa yang akan terjadi dan apa maknanya dari kedua tongkatmu nantinya

Itu pa’aline, mei-asar niaku

Artinya : Bawalah tongkatmu itu kepadaku, agar aku ceritakan apa maknanya

Wo itu I kuaku u lekepan, um pa’ar ni Empung

Artinya : Agar aku katakan apa yang harus di perbuat, sesuai kehendak Tuhan



SYAIR KE-DUAPULUH LIMA :



A Ma’wuat si Ina’, wo si Oki’na

Artinya : Dan berpisahlah si ibu, dengan anaknya

Zei’ ure sera masungkul, waki Tingkolongan

Artinya : Tidak lama berlalu mereka kemudian bertemu di Tingkolongan

Yah Pa’a Toronera, an teken wituma

Artinya : Dan disanalah mereka membadingkan tongkat mereka apakah sama tinggi

Yah weta’ un tu’is u lambot ta’an un asa

Artinya : Aduhai ternyata tongkat batang pohon “tu’is” lebih panjang dari tongkat pohon “asa” (kano-kano)



SYAIR KE-DUAPULUH ENAM :



An sera Zua mawurime, wia si Karema

Artinya : Lalu mereka berdua kembalilah, kepada Karema

Wen me ma’asar, in na’ singkela mo an teken

Artinya : Untuk menceriterakan (pada Karema) bahwa tongkat mereka tidak sama tinggi lagi

Kawuslah un asar nera, numuwu’ si Karema

Artinya : Untuk melengkapi ceritera mereka, To’ar dan Lumimu’tu, lalu Karema berkata

Karia u ngaran ni Wa’ilan, yah nima zei’ mo u ma’ ina’ an nio

Artinya : Dengan nama “Yang Maha Mulia” (Tuhan), kamu (berdua) tidak lagi sebagai ibu dan anak



SYAIR KE-DUAPULUH TUJUH :



Akaz I nania wo mange, ya Tou sana awu-mo kamu

Artinya : Mulai sekarang dan seterusnya, kamu berdua sudah menjadi Suami – Istri

Tumouma malawi-lawiz, witu un rara’atean ni Empung

Artinya :Hiduplah dengan penuh berkat, di dalam pengasihan Tuhan

Niaku Toumou kario mio, wen aku yah, Karema wo walian

Artinya : Saya akan hidup bersamamu, karena saya adalah Karema sebagai Pendeta

Wo zei’lewo’enta, ung ka’ara’anta

Artinya : Dan jangan kita putuskan perasaan kita satu sama lain.



SYAIR KE-DUAPULUH DELAPAN :



Yah nisera Sana’awu, se minaka suzu-me

Artinya : Dan mereka suami istri (Toar dan Lumimu’ut) berketurunan

Se Makazua Siouw, se Oki’

Artinya : Makarua Siouw (2 x 9) adalah anak-anaknya

Se Makatelu Pitu, se puyun

Artinya : Makatelu Pitu (3 x 7) adalah cucu-cucu

Karia ne telu pa’siouwan, kinasuzuan puyun-impuyun

Dan dengan tiga wanita “Pasiowan” menurunkan buyut-buyut, cece-cece



-----------------------------------------------------------------------------------------------



PENJELASAN MENGENAI MITOS TOAR – LUMIMU’UT :

Hanya satu orang penulis bangsa barat yang menganalisa Mitos Minahasa TOAR-LUMIMUUT secara ilmiah yakni J.Alb.T.Schwarz melalui bukunya “ Tontemboansche Teksten “ terbitan thn.1907 . Penulis J.Albt.T.Schwarz berkesimpulan bahwa mitos TOAR dan LUMIMUUT Minahasa sebenarnya ingin menggambarkan ilmu Astrologi pengetahuan bumi dan jagat raya Matahari, bulan , Bintang-bintang yang selalu sangat menarik bagi umat manusia jaman purba. Bahwa ceritera TOAR berjalan kekanan dan LUMIMUUT berjalan kekiri yang membuat mereka berpisah kearah yang berlawanan, sebenarnya ingin menggambarkan rotasi perjalanan Matahari. Matahari terbit di timur nampak Matahari menjauhi bumi naik keatas langit dan kemudian pada sore hari Matahari terbenam di barat mendekati atau bertemu lagi dengan Bumi. Pada ceritera Mitos di kisahkan bahwa TOAR dan LUMIMUUT berpisah dengan berjalan ke-arah yang berlawanan kemudian disuatu tempat yang bernama T I n g k o l o n g a n mereka berdua bertemu lagi untuk menyamakan kedua tongkat mereka apakah sama tinggi. Karena tidak sama tinggi itu menjadi penyebab status TOAR yang tadinya ANAK lalu kelak berubah jadi SUAMI.

Ketika Matahari terbit nampak TOAR ( Dewa Matahari) keluar dari perut bumi ( dewi bumi Lumimuut) gejala alam ini menempatkan TOAR ber-status ANAK. Pada sore hari Matahari ( Dewa Matahari Toar) terbenam dan nampak masuk kedalam perut Bumi ( dewi Bumi LUMIMUUT) hingga nampak seperti berhubungan badan atau bersanggama berhubungan sex dengan bumi dan gejala alam ini menempatkan TOAR ber-status sebagai SUAMI . Dari penggambaran rotasi posisi matahari dan bumi inilah lahir ceritera mitos IBU kawin dengan ANAK ketika Bumi mendapat personifikasi manusia menjadi “Dewi Bumi” LUMIMU^UT asal kata LU^UT yang artinya berkeringat karena bumi pada pagi hari selalu ber-embun yang di anggap keringat bumi, Matahari mendapat Personifikasi TOAR yang artinya akan kita dapatkan pada Mitos TOAR-LUMIMUUT lainnya dalam bentuk nyanyian “ Mangorai”.

Analisa J. Albt. T. Schwarz mengenai istilah "Si Apok Ni Mema' Untana' (bahasa Tontemboan) artinya : Leluhur ( Lumimu'ut) yang membuat tanah (Bumi) agar dapat didiami dan tempat anak-cucunya hidup, dan bukan berarti bahwa Lumimu'ut - lah pencipta bumi.

Sistim penelitian J.Albt.T.Schwarz tentu dapat kita lanjutkan dengan meneliti setiap syair dalam nyanyian ini , misalnya penjelasan bahwa ibu LUMIMUUT bernama WENGI dan ayahnya bernama KAWENGIAN. Dalam bahasa Minahasa (Tombulu) WENGI artinya malam dan apabila dimaksutkan sebagai personifikasi benda malam, maka maksutnya mungkin B u l a n , dan arti KAWENGIAN adalah benda siang yang kemalaman yang mungin ingin menggambarkan Matahari yang masih nampak sinarnya walaupun hari sudah termasuk malam. Sebagai tanda hari sudah malam adalah hewan peliharaan seperti ayam sudah naik kepohon untuk tidur, atau sudah ada Serangga malam yang berbunyi seperti “Kongkoriang” tapi sinar matahari masih nampak me-merah di kaki langit sebelah barat. Berarti yang di maksutkan dengan “kemalaman” (Kawengian) adalah Matahari , jadi ayah LUMIMUUT adalah MATAHARI dan ibunya adalah BULAN. Nyanyian Karema yang dinyanyikan pada upacara “Rumages” ini, masih banyak mengandung simbolisasi-simbolisasi yang masih dapat kita gali untuk membuka rahasia jalan pikiran dan konsep hidup orang Minahasa purba yang sejak jaman TOAR –LUMIMUUT telah mengenal satu konsep YANG MAHA MULIA MAHA BESAR yang bukan leluhur. Manusia pertama Minahasa sendiri KAREMA dan LUMIMUUT tidak berdoa pada OPOK LELUHUR sebelum mereka tapi mereka berdua diceriterakan keluar dari dalam lobang gua tempat tinggalnya untuk berdoa “Minta dikasihani Empung” atau Minta dikasihani TUHAN. Opok-Opok atau dewa-dewi Minahasa adalah leluhur orang Minahasa sendiri yang pernah hidup diMinahasa jaman tempo dulu seperti MUNTU-UNTU,LINGKANWENE,SIOUWKURUR , dan leluhur pertama Minahasa TOAR,LUMIMUUT dan KAREMA. Pada jaman masa hidup TOAR dan LUMIMUUT siapa yang menjadi OPOK mereka ???????? Karena dalam mitos Minahasa semua manusia mati tenggelam oleh banjir besar dan hanya KAREMA dan LUMIMUUT yang Tersisa dimuka bumi Minahasa, TUHAN orang Minahasa disebut EMPUNG WAILAN WANGKO ( Maha berada maha besar).



Ceritera rakyat Minahasa
Oleh: Jessy Wenas

Toar - Lumimu'ut versi Mithology pada upacara "Mangorai" berjumlah tigapuluh tujuh (37) syair diambil dari buku karangan H.M. Taulu tahun 1977, tapi sumber data tidak ditulis oleh H.M. Taulu. (hanya diambil dua syair pertama dan syair ke duapuluh empat yang menjelaskan arti kata Toar).


Syair Pertama :

Maka Tu'tul lako si Lumimu'ut

Artinya : Setelah selesai semuanya

Sia tumula'uh mo si ina' wo si ama'na

Artinya : maka Lumimu'ut meninggalkan ayah dan ibunya.



Syair Kedua :


Sia menek wana esa londei ma' ali-ali un tana' sana pongo

Artinya : Dia naik ke sebuah perahu membawa tanah segenggam



Syair keduapuluh empat :

Si Loway ni' itu ngaranan ni Karema to'ar

Artinya : Anak itu dinamakan oleh Karema, Toar

Pinotot an tou ari'i, si tou tatamber ni ari'i

Artinya : Singkatan dari Tou ari'i sebagai pemberian dari ari'i.

-----------------------------------------------------------------------------------------------

Analisa Dari Syair Nyanyian "Mangorai"


Analisa dari syair nyanyian "Mangorai" mengenai Toar-Lumimu'ut ini lebih sederhana dari syair yang sebelumnya, tapi dari syair keduapuluh empat ini nampak jelas arti kata Toar. yang merupakan singkatan dari dua kata : "tou" artinya, "orang" dan "ari'i" artinya, "tiang batu, tiang utama rumah, tiang matahari, atau anak dewa matahari"


Banyak budayawan Minahasa yang mencari - cari arti sebenarnya dari kata Toar, dan dari nyanyian inilah kita mendapatkan arti yang sebenarnya dari nama "Toar".


Catatan: Penulis adalah Anggota Pengurus Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) Departemen Sosial Budaya.
18:47 | 0 comments

MINAHASALOGI

Menggali Akar Identitas Orang Minahasa: Sebuah Jelajah Bibliografis
oleh: David H. Tulaar

A. Minahasalogi sebagai Studi ke-Minahasa-an
Minahasalogi memang adalah istilah rekaan. Saya menggunakannya luntuk menamakan keseluruhan proses studi dan penelitian menggali identitas orang Minahasa. Secara sederhana Minahasalogi bisa didefinisikan sebagai studi tentang ke-Minahasa-an, yaitu tentang apa, siapa dan bagaimana orang Minahasa itu;
pendeknya, tentang identitas orang Minahasa, tanpa mengabaikan historisitas dan kontemporaritas identitas termaksud. Artinya, yang disebut identitas orang Minahasa bukanlah tunggal dan statis, tidak bergerak, melainkan majemuk dan dinamis, bergerak di dalam ruang dan waktu, di dalam konteks dan di dalam sejarah. Konteks di sini merujuk pada seluruh faktor dalam ruang yang mempengaruhi perumusan identitas. Sedangkan sejarah merujuk pada dialektika di dalam waktu antara kontinuitas dan diskontinuitas, antara tradisi dan perubahan, antara apa yang tetap terpelihara dan apa yang mengalami pembaruan.

Sebenarnya di sini Minahasalogi hanya bermaksud meneruskan jejak langkah banyak pemerhati dan peneliti mengenai Minahasa sebelumnya. Kita patut berterima kasih kepada banyak orang di dalam sejarah yang telah memberi perhatian bahkan hidupnya bagi studi ke-Minahasa-an ini. Sebagaimana tertera pada judulnya, tulisan ini hanyalah merupakan sebuah jelajah bibliografis tentang Minahasalogi. Maksudnya tidak lain untuk sekedar memberikan gambaran mengenai jejak langkah yang telah dilakukan oleh banyak orang, dari generasi ke generasi, dari berbagai bangsa pula, bahkan sampai dua abad ke belakang, mempelajari, mendata, mendokumentasi, menganalisis dan mempresentasikan pengalaman, pengamatan dan penelitian mereka mengenai Minahasa. Selain itu tulisan ini juga hendak menantang orang Minahasa kontemporer untuk melanjutkan jejak langkah itu, sekaligus terus memungkinkan banyak orang bisa mengikuti jejak langkah tersebut.

Sebagai salah satu rujukan penting untuk Minahasalogi, patut disebut buku dari Mieke Schouten berjudul Minahasa and Bolaangmongondow: an annotated bibliography 1800-1942 (The Hague: Martinus Nijhoff, 1981). Sesuai judulnya, buku ini memuat daftar tulisan-tulisan dan buku-buku mengenai Minahasa dan Bolaang Mongondow yang terbit dalam kurun waktu 142 tahun sejak 1800. Di bawah setiap item judul dan pengarangnya Mieke Schouten memberi sedikit komentar dan ringkasan isi masing-masing tulisan.

Untuk kurun waktu tersebut Mieke Schouten berhasil menemukan 788 entri tulisan mengenai Minahasa yang masih terdokumentasi dan naskahnya tersimpan di berbagai perpustakaan dan pusat arsip di Negeri Belanda hingga kini. Topik-topik naskah-naskah tersebut sangatlah beraneka, begitu juga dengan para penulisnya. Kebanyakan tulisan memang berasal dari para missionaris dan pendeta/pastor yang pernah bekerja maupun berkunjung ke Minahasa di abad ke-19. Banyak juga tulisan yang berasal dari para pegawai pemerintah kolonial masa itu, serta ada juga naskah yang ditulis dan dikerjakan oleh para peneliti. Selain itu, ada juga cukup banyak tulisan yang dikerjakan oleh tokoh-tokoh pribumi Minahasa. Nama-nama G.S.S.J. Ratulangi dan A.L. Waworoentoe termasuk pada kelompok penulis yang produktif.

Dari antara buku-buku yang didaftarkan oleh Mieke Schouten ini ada beberapa yang sudah menjadi sangat terkenal dan sering dipakai sebagai referensi utama dalam studi mengenai Minahasa. Salah satunya adalah buku dua jilid dari N. Graafland, De Minahasa. Haar verleden en tegenwoordige toestand (Rotterdam: M. Wijt & Zonen, 1867), sebuah laporan perjalanan pribadi ke berbagai pelosok tanah Minahasa yang menyentuh berbagai aspek kehidupan pada masa Graafland sendiri sedang bekerja sebagai tenaga misionaris (zendeling) NZG (Nederlandsche Zendelinggenootschap) di sana. Buku ini kini sudah ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Entah mengapa buku ini bahkan sampai dua kali diterjemahkan dan diterbitkan oleh penerjemah dan penerbit yang berbeda. Terjemahan yang pertama dikerjakan oleh Yoost Kullit. Buku terjemahannya terbit dengan judul Minahasa: Masa Lalu dan Masa Kini (Jakarta: Lembaga Perpustakaan Dokumentasi & Informasi, 1987). Sedangkan terjemahan keduanya dilakukan oleh Lucy R. Montolalu dan terbit dengan judul Minahasa: Negeri, Rakyat dan Budayanya (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1991). Menarik dicatat maksud dari Yoost Kullit menerjemahkan bukunya Graafland ini, sebagaimana yang dituangkannya dalam prakata penerjemah buku terjemahannya, yaitu "agar kaum muda Minahasa khususnya, rakyat Indonesia yang berasal dari Minahasa umumnya dapat mengetahui sedikit tentang perkembangan dan kebudayaan orang Minahasa, yang ketika itu masih terkungkung oleh kebiasaan Alifuru kebiasaan menyembah berhala, pohon, batu, burung, ular dan segala sesuatu yang bersifat animisme". Mengenai perspektif yang disebutnya terakhir ini tentu masih bisa didebat lebih lanjut. Tetapi bahwa ada usaha untuk menerjemahkan buku setebal 1349 halaman dari tahun 1867 dengan motivasi memperkenalkan rekaman kebudayaan Minahasa di masa lalu kepada generasi muda di tahun 1980-an, ini adalah hal yang sangat luar biasa dan patut dihargai setinggi-tingginya.

Selain buku ini, Nicolaas Graafland juga menulis banyak monografi yang diterbitkan dalam Mededeelingen vanwege het Nederlandsche Zendelinggenootschap (lazim disingkat MNZG). Salah satu yang penting untuk memahami kerohanian dan keberagamaan orang Minahasa zaman dulu adalah tulisannya yang berjudul “De geestesarbeid der Alifoeren in de Minahassa gederunde de heidensche periode” (MNZG 25, 1887). Di sini Graafland antara lain menggali kedalaman arti dan makna kerohanian tua di Minahasa (khususnya di wilayah berbahasa Tombulu), dari masa sebelum ada pengaruh Kekristenan. Selain mendalami doa-doa tua, ia juga menggali mitos tentang asal-usul manusia dan beberapa legenda.

Graafland adalah pendiri sekolah guru di Minahasa, yang mula-mula didirikan di Sonder pada tahun 1851 dan yang tiga tahun kemudian dipindahkan ke Tanawangko. Dokumentasi dan analisis mengenai sekolah guru yang didirikan dan dikelola oleh Graafland ini bisa ditemukan panjang lebar dalam bukunya H. Kroeskamp, Early Schoolmasters in Developing Country: A history of experiments in school education in 19th century Indonesia (Assen: Van Gorcum & Comp. B.V., 1973). Empat bab disediakan Kroeskamp dalam bukunya untuk membahas tema pendidikan di Minahasa dan keberadaan sekolah guru ini serta pengaruhnya terhadap masyarakat Minahasa. Di Tanawangko Graafland juga mulai menerbitkan surat kabar pertama Minahasa (berbahasa Melayu), “Tjahaja Siang”. Analisis mengenai bahasa Melayu surat kabar ini sudah dilakukan oleh Geraldine Y.J. Manoppo-Watupongoh dalam disertasinya berjudul Bahasa Melayu surat kabar di Minahasa pada abad ke-19 (Disertasi, Universitas Indonesia, Jakarta, 1983).

Acuan penting lain untuk menggali makna cerita-cerita rakyat di Minahasa adalah buku tiga jilid dari J.A.T. Schwarz, Tontemboansche Teksten (Leiden: Brill, 1907). Jilid pertama adalah kumpulan cerita-cerita rakyat yang dikumpulkan Schwarz dan semuanya dalam bahasa Tontemboan. Seluruhnya ada 141 cerita. Temanya bermacam-macam, mulai dari fabel, mitos kelahiran desa, kisah asal-usul nama, sampai pada legenda dan mitos tentang dewa-dewi serta doa-doa. Jilid kedua merupakan terjemahan bahasa Belanda dari jilid pertama ditambah dengan interpretasi pribadi oleh Schwarz sendiri. Jilid ketiga berisi catatan-catatan linguistik dan ethnografik terhadap naskah-naskah cerita itu. Schwarz yang sama pula yang menulis Tontemboansch-Nederlandsch woordenboek met Nederlandsch-Tontemboansch register (Leiden: Brill, 1908). Selain itu masih banyak karya lain yang ditulis oleh J.A.T. Schwarz yang terbit dalam MNZG. J.A.T. Schwarz adalah salah satu misionaris NZG yang pernah bertugas di Sonder. Ayahnya, J.G. Schwarz, adalah misionaris pelopor yang lama bekerja di Langowan, yang tiba di Minahasa pada tahun 1831 bersama dengan J.F. Riedel, juga misionaris pelopor yang mengabdikan lebih dari 30 tahun hidupnya, bahkan hingga wafat, di Tondano.

N.P. Wilken adalah nama yang harus disebut jika kita hendak menggali akar kebudayaan Minahasa. Wilken adalah juga salah seorang misionaris NZG. Banyak tulisan lepas dari N.P. Wilken yang diterbitkan dalam MNZG. Salah satunya yang sering digunakan sebagai rujukan adalah tulisan berjudul “Bijdragen tot de kennis van de zeden en gewoonten der Alfoeren in de Minahassa (MNZG 7, 1863), sebuah presentasi tentang kebiasaan-kebiasaan pribumi Minahasa pada masa itu. Tulisan ini penuh dengan deskripsi etnografis sekitar berbagai pandangan dan tata-cara hidup, termasuk kehidupan keagamaan, khususnya di wilayah Tombulu, sampai pada cerita-cerita fabel dan uraian asal-usul dan arti sejumlah nama tempat (negerijen). Misalnya nama Tataaran berasal dari kata “tumaar” (beloven=berjanji) sampai menjadi “tataaran” (de plaats van belofte=tempat terjadi satu perjanjian). Alkisah pada zaman dulu orang Tondano dan orang Tombulu sepakat untuk menjadikan tempat ini (negerij) sebagai tempat transaksi atau baku-tukar barang (ruilhandel). Berdasarkan perjanjian ini maka tempat tersebut mendapat nama Tataaran.

Selain berminat pada etnologi, N.P. Wilken juga sangat tertarik dengan bahasa-bahasa setempat. Ia bahkan menulis satu buku berjudul Bijdragen tot de kennis der Alfoersche taal in de Minahasa (Rotterdam: M. Wijt & Zonen, 1866), yang secara khusus memberi perhatian pada bahasa Tombulu. Setelah mencatat sejumlah cerita rakyat dan teka-teki dalam bahasa Tombulu, Wilken menguraikan dalam buku ini tata-bahasa Tombulu, termasuk mengenai bunyi, pembentukan kata, kata kerja dan seterusnya.

B. Setelah 1942 sampai Dasawarsa 1960-an
Sayang sekali judul-judul tulisan yang dihimpun oleh Mieke Schouten dalam bukunya Minahasa and Bolaangmongondow: an annotated bibliograpy 1800-1942 hanya sampai pada yang terbit tahun 1942 (walaupun Schouten sendiri sebenarnya tidak konsisten dengan batas tahun 1942 ini, karena ternyata di dalam bukunya itu ia juga mendaftarkan satu-dua karangan yang terbit sesudah itu). Lalu, bagaimana dengan tulisan-tulisan setelah itu? Sesungguhnya, tidak mudah mendaftarkan apalagi mendokumentasi tulisan-tulisan mengenai Minahasa sejak tahun 1942 itu. Mieke Schouten berhasil menyusun bibliografi mengenai Minahasa karena tulisan-tulisan yang ditelusurinya itu terarsip dengan baik di berbagai perpustakaan dan pusat arsip di Negeri Belanda. Sementara kebanyakan tulisan setelah itu masih bersifat tulisan lepas yang tersebar dan malah banyak yang tidak dibukukan atau dipublikasikan. Nanti tahun 1950-an mulai ditemukan lagi publikasi-publikasi berbentuk buku mengenai Minahasa, khususnya yang dikerjakan oleh orang-orang pribumi Minahasa. H.M. Taulu, J.F. Malonda dan F.S. Watuseke berada di deretan nama-nama penulis pada waktu itu. Salah satu buku H.M. Taulu yang terbit di dekade 50-an berjudul Adat dan Hukum Adat Minahasa (Tomohon, 1952), sedangkan satu-satunya buku dari J.F. Malonda yang terkenal berjudul Membuka tudung dinamika filsafat-purba Minahasa (Manado: Jajasan Badan Budaja Wongker-Werun, 1952). Juga termasuk dalam deretan terbitan di dekade 1950-an adalah buku dari J.G.Ch. Sahelangi, Ringkasan Hikajat Tanah dan Bangsa Minahasa Purbakala serta dengan Hikajat Bangsa Bentenan jang menduduki bahagian tenggara tanah Minahasa (Makassar: Pertjetakan Makassar, 1950).

Pada awal tahun 1961 terbit buku Sejarah Minahasa oleh F.S. Watuseke. Buku ini secara singkat tapi padat mendaftarkan secara kronologis peristiwa-peristiwa yang terjadi di Minahasa mulai dari “zaman purba” sampai dengan tahun 1954, yaitu ketika Bitung dijadikan pelabuhan samudra. Yang sangat menarik dari buku ini – khususnya dalam edisi ke-2 yang terbit 1968 – adalah lampiran-lampirannya, yang di antaranya mendaftarkan perjalanan sejarah pembagian tanah Minahasa dalam walak-walak dan kemudian dalam distrik-distrik sejak kira-kira tahun 1679 sampai 1966. Menyinggung tahun 1960-an, tidak boleh dilupakan buku kecil dari E.V. Adam, Kesusasteraan, Kebudajaan dan Tjerita-tjerita Peninggalan Minahasa (Manado: Pertjetakan Negara, 1967). Buku kecil ini lebih merupakan kapita selecta mengenai kebiasaan-kebiasaan dan kepercayaan-kepercayaan tua serta aturan-aturan tata-krama di Minahasa tempo dulu. Ada juga pantun-pantun dan “keahlian” mendengarkan bahasa burung.

F.S. Watuseke kemudian menjadi seorang penulis ahli mengenai Minahasa. Beberapa tulisannya malah diterbitkan dalam majalah Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlansch-Indië (yang biasa disingkat BKI) terbitan KITLV di Negeri Belanda, baik dalam bahasa Belanda maupun bahasa Inggris. Salah satu tulisannya itu berjudul “Oude gebruiken bij zwangerschap en geboorte in Tondano” (BKI 126, 1970). Sesuai judulnya, tulisan ini berbicara tentang kebiasaan-kebiasaan tua di sekitar kehamilan dan kelahiran di Tondano, di mana dijelaskan, misalnya, apa artinya si maali-ali dan si matimea’ sampai pada nama dan jenis berbagai macam rempah-rempah yang diperlukan oleh seorang ibu untuk mandi setelah melahirkan (seperti Karimenga, Kajutumetow, Muntè pepontolen, dst.). Juga tidak ketinggalan di bagian akhir tulisannya adalah sebuah gambar tentang bagaimana tampaknya buaian bayi asli setempat.

Tahun 1968 Kurt Tauchmann, seorang peneliti Jerman, dipromosi doktor di Universitas Köln dengan disertasi berjudul Die Religion der Minahasa-Stämme (Nordost-Celebes/Sulawesi). Barangkali inilah disertasi pertama tentang Minahasa yang ditulis dalam bahasa Jerman. Melalui studinya ini Kurt Tauchmann coba merekonstruksi agama dan kepercayaan asli suku-suku di Minahasa dari masa pra-pengaruh Eropa. Buku ini terdiri dari enam bab, masing-masing membahas kosmologi, kepercayanaan dan ajaran tentang dewa-dewa, gambaran dan konsepsi mengenai jiwa, kepemimpinan agama, perilaku keagamaan, dan terakhir mengenai sistem agama Minahasa. Studi ini sangatlah komprehensif dengan tetap menjaga kepelbagaian di antara suku-suku di Minahasa itu sendiri. Yang menarik, Tauchmann menyebut Minahasa sebagai “Mythenmuseum”. Di wilayah Indonesia bagian Timur, katanya, tidak ada daerah lain di mana ditemukan aneka ragam mitos yang bersaing seperti di Minahasa.

C. Tiga Dekade Kemudian: 1970-1999
Pada pertengahan tahun 1970-an ada program kerjasama antara Lembaga Ilmu Pngetahuan Indonesia (LIPI) dengan Koninklijk Instituut voor Land-, Taal- en Volkenkunde (KITLV) untuk menerbitkan seri terjemahan karangan-karangan Belanda ke dalam bahasa Indonesia. Panitianya diketuai oleh Koentjaraningrat, seorang guru besar anthropologi dari Universitas Indonesia, Jakarta. Sayangnya, selama program ini berlangsung hanya dua karangan dari seorang penulis Belanda, yaitu L. Adam, mengenai Minahasa yang sempat diterjemahkan. Dua karangan itu masing-masing terbit dengan judul Pemerintahan di Minahasa (Jakarta: Bhratara, 1975) dengan kata pengantar oleh F.S. Watuseke dan Adat Istiadat Sukubangsa Minahasa (Jakarta: Bhratara, 1976) dengan kata pengantar oleh G.M.A. Inkiriwang. Konon, masalah dana menghentikan gerak langkah program ini. Satu hal yang patut disayangkan. Edisi asli berbahasa Belanda kedua karangan tersebut sudah terbit dalam BKI 81 pada tahun 1925 dalam seri tulisan bertema “Uit en over de Minahasa”. Dalam serial ini terdapat dua tulisan mengenai misi dan gereja di Minahasa, masing-masing oleh J.W. Gunning, “De protestantsche zending in de Minahasa” (BKI 80, 1924) dan oleh A.J. van Aernsbergen, “De Katholieke kerk en hare missie in de Minahasa” (BKI 81, 1925). Selain itu pula, masih dalam serial “Uit en over Minahasa”, ada satu tulisan mengenai bahasa-bahasa di Minahasa oleh N. Adriani berjudul “De Minahasische talen” (BKI 81, 1925).

Dekade 1980-an merupakan dekade kebangkitan Minahasalogi. Di lingkungan universitas dan sekolah tinggi di Minahasa muncul minat yang luar biasa untuk mempelajari budaya, agama dan masyarakat Minahasa. Hal ini nyata antara lain dari banyaknya skripsi dan tesis mengenai Minahasa yang lahir di Fakultas Teologi UKIT, di Seminari Pineleng dan di Fakultas Sastra UNSRAT pada tahun 1980-an. (Saya sendiri lulus dari Fakultas Teologi UKIT pada bulan Mei 1987 dengan skripsi tentang Watu Pinawetengan berjudul “Agama Rakyat dalam Artikulasi Teologis”). Juga banyak dosen yang melanjutkan studi pada periode ini mengambil tema sekitar agama dan kebudayaan serta situasi sosial masyarakat Minahasa. Dari bidang studi teologi dan Kekristenan bisa disebutkan di sini dua dari sekian banyak contoh: Richard A.D. Siwu, “Adat, Gospel and Pancasila: A Study of the Minahasan Culture and Christianity in the Frame of Modernization in Indonesian Society” (Tesis D.Min, Lexington Theological Seminary, 1985); K.A. Kapahang-Kaunang, Perempuan: Pemahaman Teologis tentang Perempuan dalam Konteks Budaya Minahasa (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993). Karangan yang disebutkan terakhir ini semulanya adalah tesis M.Th. yang diselesaikan di UKIT Tomohon pada tahun 1989. Di bidang pertanian, misalnya, ada penelitian dari A.E. Wahongan-K, “Peranan Wanita dalam Pembangunan dan Kaitannya dengan Lembaga Mapalus” (Tesis Master, Institut Pertanian Bogor, 1986).

Contoh-contoh ini sekedar menunjukkan luasnya samudra penelitian yang telah dikerjakan di berbagai bidang mengenai Minahasa selama dekade 1980-an. Masalahnya, keluasan ini tidak diikuti dengan proses dokumentasi dan pengarsipan yang memadai, sehingga tidak ada sama sekali katalog yang bisa dijadikan acuan untuk menemukan kekayaan tulisan dan penelitian ini. Barangkali dalam hal ini para pakar dan peneliti yang tengah berkecimpung di dunia akademik/universiter bisa membantu dalam upaya penyusunan katalog termaksud. Usaha ini hendaknya bisa terkoordinasi dan terorganisasi dengan baik pula.

Selain itu, patut dicatat dua peristiwa besar yang turut menandai kebangkitan Minahasalogi di era 1980-an, yaitu pelaksanaan Seminar Penentuan Hari Jadi Daerah Minahasa di Tondano, 24-27 Mei 1982 dan seminar dalam rangka perayaan Yubileum 50 tahun GMIM Bersinode di Manado, 8-10 Oktober 1984. Selain menjadi ajang temu wicara para pakar, kedua acara ini juga meninggalkan banyak monografi yang sangat bermanfaat bagi studi ke-Minahasa-an. Sayangnya, hanya materi-materi seminar di Tondano yang didokumentasikan sebagai satu kumpulan “Materi Penunjang”, sedangkan bahan-bahan seminar di Manado harus dicari pada koleksi-koleksi pribadi. Kalau di seminar di Tondano ada pemakalah seperti H.M. Taulu dan Noldy Ch. Kumaunang, dari seminar di Manado ada nama-nama seperti E.K.M. Masinambow, O.E.Ch. Wuwungan dan Jan van Paassen. Juga karya-karya lepas tokoh-tokoh ini perlu didata dan diarsipkan dengan baik, karena merupakan bagian dari kekayaan studi Minahasalogi. Sebagaimana diketahui, sebagai hasil “politis” dari seminar penentuan hari jadi daerah Minahasa itu, ditetapkanlah tanggal 5 November 1428 sebagai hari jadi Minahasa. Sehingga, tepat pada tanggal 5 November 1983, HUT Minahasa ke-555 dirayakan secara meriah. Penentuan tanggal 5 November mempunyai arti simbolis dan merujuk pada tanggal wafatnya Oom Sam Ratulangi. Tetapi mengapa tahun 1428 yang ditetapkan, sampai sekarang belum jelas benar alasannya. Mungkin para pelaku sejarah yang terlibat pada waktu itu boleh membantu dalam menjawab pertanyaan terbuka ini. Yang pasti, antara proses seminar dan hasil “politis” penentuan hari jadi itu ada kesenjangan historis dan analitis yang masih perlu dijembatani.

Masih di era 80-an, perlu juga disebut satu disertasi mengenai Minahasa yang dipertahankan di Göteborg, Swedia oleh Wil Lundström-Burghoorn berjudul Minahasa Civilization: A Tadition of Change (Göteborg: Acta Universitatis Gothoburgensis, 1981). Satu studi anthropologis mengenai kebiasaan-kebiasaan dan tradisi-tradisi yang dipraktekkan oleh masyarakat di Minahasa, termasuk kajian mengenai sistem kekerabatan dan rites de passage mulai dari kelahiran sampai kematian seseorang. Buku lain yang juga sangat penting dari dekade ini adalah yang ditulis oleh Bert Supit berjudul Minahasa: Dari Amanat Watu Pinawetengan Sampai Gelora Minawanua (Jakarta: Sinar Harapan, 1986). (Catatan: Bert Supit penulis buku ini tidak identik dengan dokter Bert A. Supit di Tomohon. Bert Supit ini adalah bekas perwira TNI-AD dan termasuk salah seorang pemrakarsa berdirinya Perguruan Tinggi Manado, yang kemudian menjadi Universitas Sam Ratulangi, dan sekarang tinggal di Jakarta). Buku karangan Bert Supit bisa dikategorikan sebagai buku kajian sejarah Minahasa. Salah satu acuan utama yang digunakan oleh Bert Supit adalah bukunya E.C. Godeè Molsbergen, Geschiedenis van de Minahassa tot 1829 (Weltevreden: Landdrukkerij, 1928). Bahkan kutipan lengkap naskah-naskah perjanjian antara orang Belanda dan orang Minahasa pada tahun 1679, 1699 dan 1790 selengkapnya diambil dari buku tersebut. Tetapi itu tidak berarti Bert Supit tidak berlaku kritis terhadap buku tersebut. Melalui bukunya ini Bert Supit malah menunjukkan gejolak-gejolak perlawanan terhadap Belanda yang pernah terjadi dalam sejarah Minahasa, terutama dengan terjadinya Perang Tondano.

Melengkapi jelajah bibliografi tentang Minahasa di tahun 1980-an, bisa ditambahkan di sini dua nama penulis beserta karangannya yang dipublikasi secara nasional maupun internasional, yaitu: N.S. Kalangi, “Kebudayaan Minahasa” dalam Koentjaraningrat, ed., Manusia dan Kebudayaan di Indonesia (Jakarta: Didjaskara, 1981); Willem H. Makaliwe, “A preliminary note on genealogy and intermarriage in the Minahasa regency, North Sulawesi” (BKI 137, 1981). Tulisan N.S. Kalangi lain yang juga terkenal berjudul “Orang Minahasa. Beberapa Aspek Kemasyarakatan dan Kebudayaan” dalam Peninjau 4, 1977.

Beralih ke dasawarsa 1990-an. Sejauh pengamatan, sepanjang dekade 90-an sedikitnya telah lahir empat disertasi (dua darinya telah dipublikasi sebagai buku) tentang Minahasa yang ditulis oleh orang Eropa. Tahun 1990 Helmut Buchholt menerbitkan buku berjudul Kirche, Kopra und Bürokraten: Gesellschaftliche Entwicklung und strategisches Handeln in Nord Sulawesi / Indonesien (Saabrücken: Verlag Breitenbach, 1990). Buchholt sendiri adalah orang Jerman. Buku ini aslinya adalah disertasi. Promosi doktornya di Universitas Bielefeld. Judulnya memang unik, karena mengkombinasikan gereja, kopra dan kaum birokrat. Mengikuti pendekatan sosiologi pembangunan dalam kerangka konsep strategische Gruppen, Buchholt meneliti peran sentral orang dan daerah Minahasa dalam membangun wilayah Sulawesi Utara, terutama sejak era politik kolonial Hindia-Belanda dengan proses transformasi ekonominya sampai pada era pemerintahan Orde Baru dengan birokratisasinya.

Tahun 1993 ada dua disertasi yang dipertahankan di Negeri Belanda. Kedua penulisnya berkebangsaan Belanda. Satu disertasi dikerjakan oleh Mieke Schouten berjudul Minahasan Metamorphoses: Leadership and social mobility in a Southeast Asian society, c. 1680-1983 (Disertasi Vrije Universiteit, Amsterdam, 1993). Mieke Schouten menfokuskan studi antropologis-historisnya pada perubahan kultural yang terjadi di Minahasa pada masa antara tahun 1680 dan 1983. Dengan menggunakan istilah “metamorfosa” pada judulnya, Schouten membuktikan bahwa di Minahasa, perubahan ekonomi, politik dan religius tetap diikuti oleh pola-pola dari masa lampau. Praktik-praktik kekristenan, misalnya, tetap tidak terlepas dari pola-pola ritual dan struktur agama primer. Selain itu, betapa pun struktur birokratis negara modern mewarnai konstelasi politik, pola kepemimpinan tradisional masih menguasai struktur desa.

Disertasi dari Mieke Schouten ini merupakan perpaduan menarik antara dokumentasi dan analisis. Buku setebal 340 halaman ini bahkan bisa menjadi dasar untuk banyak penelitian baru, misalnya mengenai konsep kekuasaan dalam budaya-budaya di Minahasa atau mengenai perempuan Minahasa. Dalam hal studi tentang Minahasa, Mieke Schouten memang bukan orang baru. Tesis MA-nya di Vrije Universiteit, Amsterdam, pada tahun 1978 sudah mengambil tema perubahan posisi kepala walak di Minahasa pada abad ke-19 (“De veranderende positie van het walak-hoofdt in de Minahasa gedurende de negentiende eeuw”). Sejak itu Mieke Schouten sebenarnya telah mulai memantapkan dirinya sebagai salah seorang nara sumber mengenai Minahasa, terutama lewat tulisan-tulisannya. Ia termasuk salah satu penulis asing yang sangat produktif menulis tentang Minahasa.

Disertasi lainnya ditulis oleh Menno Hekker berjudul Minahassers in Indonesië en Nederland: migratie en cultuurverandering (Disertasi Universiteit van Amsterdam, 1993). Dari judulnya saja sudah kelihatan arah penelitiannya adalah mengenai perubahan kultural pada kaum migran Minahasa di Negeri Belanda. Menno Hekker mengklasifikasi studinya sebagai ethnografi. Studinya sendiri merupakan studi kasus terhadap satu kaum migran tertentu. Berdasarkan pendekatan perubahan kebudayaan Menno Hekker lalu membuat perbandingan antara orang Minahasa yang telah menetap di Negeri Belanda dengan mereka yang menetap di tanah Minahasa. Perubahan kultural yang terjadi pada kaum migran Minahasa disebutnya sebagai satu proses “folklorisering”. Proses ini terjadi akibat perubahan konteks di mana kebudayaan Minahasa itu dihidupi. Artinya, konteks asli budaya Minahasa telah diganti oleh konteks kehidupan sosial masyarakat Belanda, yang berakibat pada menghilangnya sejumlah unsur budaya. Namun demikian ada sejumlah kebiasaan dan unsur kultural yang terus dipelihara seperti pengucapan syukur, kumpulan, kunci tahun baru, acara pohon terang, maengket, kabasaran dan mapalus. Mapalus umumnya hanya berlangsung sebagai prinsip resiprositas di antara warga Minahasa di Nederland.

Pada tahun 1996 KITLV di Leiden menerbitkan buku dari David E.F. Henley, Nationalism and Regionalism in a Colonial Context: Minahasa in the Dutch East Indies (Leiden: KITLV, 1996). Dalam bentuknya yang belum direvisi, isi buku ini sudah diajukan oleh penulisnya sebagai disertasi Ph.D. pada Australian National University pada tahun 1992. David Henley sendiri berkebangsaan Inggris. Buku ini pada hakekatnya meneliti perkembangan nasionalisme regional yang bertumbuh di Minahasa pada zaman Hindia-Belanda hingga tahun 1942. Ia juga melakukan analisis yang dalam tentang pengertian “bangsa Minahasa”. Baik perdebatan politik dalam Minahasarad maupun sejarah kelahiran organisasi-organisasi politik orang Minahasa turut terdokumentasi dalam karya ini.

Selain terbitnya disertasi-disertasi ini, ada dua buku kompilasi tulisan mengenai Minahasa yang terbit dalam bahasa Inggris selama era 90-an. Dua buku ini masing-masing adalah Helmut Buchholt dan Ulrich Mai, eds., Continuity, Change and Aspirations: Social and Cultural Life in Minahasa, Indonesia (Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 1994) dan Reimer Schefold, ed., Minahasa Past and Present: Tradition and Transition in an Outer Island Region of Indonesia (Leiden: Research School CNWS, 1995).

Buku pertama memuat sebelas tulisan dari berbagai penulis, di luar bagian introduksi, yang sebenarnya mengisi tiga bagian buku ini. Bagian pertama, mencakup tiga tulisan, menyentuh aspek-aspek sosial-historis dan kultural pembangunan di Minahasa. Bagian kedua mengangkat secara khusus aspek politik lokal dan diferensiasi sosial. Lima tulisan mengisi bagian ini. Sedangkan tiga tulisan yang mengisi bagian ketiga berkaitan dengan aspek-aspek ideologis dan ekonomis dari pembangunan wilayah. Sebagian besar isi buku ini merupakan tuangan hasil kajian oleh lima peneliti Jerman dari Universitas Bielefeld. Penting dicatat, sejak tahun 1980-an Universitas Bielefeld merupakan univeritas Jerman yang banyak memberi perhatian pada penelitian-penelitian di Minahasa. Juga hubungannya dengan pusat penelitian UNSRAT Manado sangat erat. Kemudian ada satu kontribusi dari Mieke Schouten kalangan elit lama dan baru di Sonder. Dua tulisan lainnya berasal dari para peneliti di UNSRAT. Satu tulisan mengenai peranan perempuan Minahasa di pedesaan ditulis bersama oleh Wiesje Lalamentik, Alex Ulaen dan Justus Inkiriwang. Satu tulisan lagi mengenai pola-pola pemberdayaan dan peran tenaga kerja sektor non-pertanian di pedesaan Sulawesi Utara dikerjakan oleh Lucky Sondakh.

Buku kedua berisi delapan artikel, di luar introduksi yang ditulis oleh editor buku ini, mencakup berbagai tema yang masing-masiong berdiri sendiri. Ada misalnya Mieke Schouten yang membahas soal mencari status di Minahasa, atau Reimar Schefold dengan tema pencuri heroik (tentang Tumileng), atau David Henley dengan analisis mengenai kartografi Minahasa dalam sejarah. Selain itu ada juga tiga nama Indonesia di antara para penulis, yaitu Louise Gandhi Lapian, Richard Leirissa dan Rili Djohani. Louise Gandhi-Lapian adalah dosen pada Fakultas Hukum UI yang pada tahun 1993 meraih gelar doktor dengan disertasi berjudul “Harmonisasi Hukum tentang Sahnya Perkawinan Kristen dan Hubungannya dengan Harta Benda Perkawinan: Suatu Penelitian Lapangan di ‘Rondor’ Kawangkoan Minahasa (Disertasi Ph.D. Universitas Indonesia, Jakarta, 1993). Richard Leirissa adalah dekan Fakultas Sejarah UI. Pada tahun 1990 ia menulis sebuah buku berjudul PRRI/Permesta: Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis (Jakarta: Grafitipres, 1990).

Di bagian introduksi buku yang dieditnya ini, Reimar Schefold antara lain menulis: “The various contributions give voice to a new interest in the culture of Minahasa, which after a long period of considerable silence has been gradually re-emerging in recent years.” Bagaikan hembusan angin segar mendengar lahirnya minat baru terhadap budaya Minahasa ini. Sayangnya, buku kompilasi tulisan mengenai Minahasa seperti ini tidak banyak terbit di Indonesia. Pada tahun 1993, selama cuti pulang kampung di Tomohon, saya bersama Dr. R.A.D. Siwu coba mendirikan lembaga studi dan penerbit dengan nama Lembaga Telaah Agama dan Kebudayaan (LETAK) dan sejauh ini telah berhasil menerbitkan beberapa buku, di antaranya: David H. Tulaar, ed., Opoisme: Teologi Orang Minahasa (Tomohon: LETAK, 1993) dan David H. Tulaar, ed., Merunding-rundingkan Kerja Selamat: Buku Penghormatan Hari Jadi ke-60 Prof. Dr. W.A. Roeroe (Tomohon: LETAK, 1993). Buku pertama merupakan dokumentasi satu proses diskusi bertemakan “opoisme” yang berlangsung lewat korespondensi tulisan maupun lewat seminar sejak tahun 1990 sampai 1993. Buku kedua adalah Festschrift untuk Pdt. W.A. Roeroe dan mengangkat tema-tema seperti pembangunan pedesaan, perempuan, gereja dan teologi di Minahasa.

D. Merealisasi Sebuah Cita-cita
Tentu saja jelajah bibliografis ini masih jauh dari lengkap dan sempurna. Masih banyak penulis dan tulisan yang belum tercatat di sini. Apalagi banyak pula tulisan yang ditulis untuk kesempatan tertentu saja dan tidak didokumentasikan. Tidak boleh dilupakan di sini berbagai penerbitan sederhana oleh berbagai lembaga atau yayasan adat dan kebudayaan Minahasa yang sudah pernah ada. Ada misalnya buletin dari tahun 1977 berjudul “Seri Mapalus. Koleksi Warisan Nenek Moyang” oleh Vincent O.L. (Jakarta: Yayasan Mapalus), atau buku kecil stensilan dari I.W. Palit, “Sejarah Manusia Pertama di Minahasa” (tanpa tahun). Pada Sidang Raya IX Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) di Tomohon pada tahun 1980 buku stensilan ini diedarkan kepada para peserta sidang.

Masih merupakan cita-cita pribadi untuk menyusun sebuah katalog terbitan-terbitan mengenai Minahasa. Tulisan ini hanyalah salah satu langkah ke arah perwujudan cita-cita tersebut. Minahasalogi perlu terus dikembangkan. Barangkali satu waktu nanti cita-cita ini bisa bermuara pula pada pendirian satu pusat dokumentasi dan arsip bagi studi ke-Minahasa-an. Atau barangkali satu pusat studi Minahasalogi. Namun demikian terlalu muluk-muluk untuk segera berpikir tentang sebuah gedung, tentang lemari-lemari buku atau laci-laci arsip yang berderet-deret, tentang komputer yang berisi data bibliografis, tentang koleksi microfiche. Langkah pertama adalah pendataan “apa yang ada”, yaitu publikasi, naskah dan tulisan apa saja yang sudah ada. Inilah awal dari penyusunan katalog lengkap mencakup penulis, judul, bidang penelitian, jenis tulisan, dan seterusnya. Langkah kedua adalah pendataan di mana publikasi, naskah dan tulisan itu bisa ditemukan. Setidaknya diketahui kepada siapa kita bisa bertanya untuk menemukan satu naskah misalnya. Nanti pada langkah ketiga dan langkah-langkah selanjutnya kita mulai memikirkan bagaimana mengumpulkan, mendokumentasikan serta mengarsipkan semua ini sehingga accessible, baik bagi pemerhati atau peneliti, teristimewa bagi setiap orang Minahasa yang hendak menggali akar-akar identitasnya. Kata kunci utama di sini adalah accessibility. Minahasalogi harus senantiasa menjadi gerbang yang terbuka bagi proses “baku beking pande” dan realisasi “si tou timou tumou tou”.

Stuttgart, awal Agustus 2001
23:39 | 0 comments

TANAH ADALAH IBU

Blog Archives

Labels